News & Articles

Majalah Relasi

Djok yang Tercinta, Idola Tua-Muda

Djok yang Tercinta, Idola Tua-Muda

 

Pasutri yang telah sekian puluh tahun mengarungi kehidupan bersama, kalau suatu ketika salah satu dipanggil pulang oleh Allah Penciptanya, pasangan yang ditinggalkan tetap akan merasakan kesedihan yang amat sangat, apalagi yang biasa hidup rukun seperti Pasutri Djok-Willy Maramis yang telah menjalani 53 tahun hidup perkawinan.

Pengembangan dan perkembangan ME Distrik IV Surabaya tak lepas dari perjuangan Pasutri Djok-Willy Maramis, yang menjadi panutan dan idola para Team khususnya, serta para pasutri ME Distrik IV Surabaya pada umumnya.

Berpulangnya Djok ke rumah Bapa (Maria Cecilia Maramis-Supit) pada 4 April 2012  dalam usia 82 tahun, sungguh merupakan kehilangan yang sangat besar bagi kami semua.                                                                                                                        

Pasutri Djok-Willy Maramis mengikuti WEME yang pertama diadakan di Surabaya pada tanggal 29 sampai dengan 31 Desember 1978. dan memberikan WE pertama pada tanggal 29 sampai dengan 31 Mei 1981, dan memberikan coaching bagi para Team ME Distrik IV Surabaya (serta Wilayah yang lain), baik Team Pasutri maupun Team Priest, sehingga Kesetiaan pada Kerangka WEME tetap terjaga.                                                                                                                 

Selama tiga periode Pasutri Djok Willy menjadi Koordinator Distrik IV Surabaya. Yang pertama berpasangan dengan Pastor Ad.Wetzer SVD sebagai Ecclesial Team, dilanjutkan bersama Pastor J. Haryono CM. Dan selama belasan tahun Pertemuan Bulanan Team pemberi W.E. selalu diadakan dikediaman beliau.

Bagi yang baru mengenalnya, Djok seperti pendiam, namun sebenarnya beliau merupakan seorang ibu yang ramah, penuh perhatian dan sangat rendah hati. Bila kami membutuhkan bantuan, baik itu permasalahan ME ataupun masalah pribadi, walaupun tengah malam, kami tidak ragu untuk menelponnya karena akan tetap diangkat dan dijawab dengan penuh keramahan.

Demi kesehatannya, cukup lama Djok menjalani diet yang ketat. Teringat suatu ketika waktu kami bersama sama memberikan WE, Djok hanya makan nasi dan mentimun, sebab makanan yang lain kebetulan merupakan pantangannya. Kami usulkan minta menu khusus pada Suster pengelola dapur, namun Djok menolak, “Tidak usah merepotkan Suster”, katanya. Karena tidak tega, maka diam-diam kami memberanikan diri mengutarakan pada Suster, sungguh tidak disangka Djok malah berdiri di belakang kami. Wah, ketahuan nih!.  Maaf ya Djok..., semua ini kami lakukan karena kami sangat mencintai Anda. Kesederhanaan Anda sungguh sangat kami kagumi. Semoga kamipun bisa meneladaninya.

Pemakamam Djok dilaksanakan pada 6 April 2012 yang bertepatan dengan Jumat Agung, hingga kami semua yakin Djok akan dibangkitkan pula bersama Kristus, Tuhan dan Rajanya. Disana, Djok akan mendoakan kita semua, para pasutri serta gerakan ME yang dicintainya.

Sebelum  mengirimkan artikel  ini, terlebih dahulu artikel  kami kirimkan ke Willy untuk mendapatkan persetujuan. Sungguh tidak disangka Willy memberikan balasan mengharukan.

 

Dear Lian-Teddy,

Terima kasih banyak atas tulisan itu. Saya baca sambil mengeluarkan air mata. Lian-Teddy koq bisa tulis begitu, juga banyak teman lain menulis dengan nada seperti itu. Tapi sebenarnya kami tidak berbuat sesuatu yang luar biasa, hanya menemani teman-teman dan berjalan bersama dalam gerakan ME. Kalau ada yang tergerak, terbantu atau tersemangati, Puji Tuhan, DIA lah yang bekerja. 

Tolong pertimbangkan apakah boleh menambah sharing Pauline dan Ayline, mungkin masih ada sama mereka, sayang sekali di HP saya sudah terhapus; saya terharu membacanya. Juga sharing Pastor  Gani, tapi nanti terlalu panjang ya, apakah Majalah Relasi mau menerima? Coba saja !

God bless you both. WLU, WNU,   

Willy

 

Djok... dalam Pandangan Para Sahabat                                                    

Memenuhi harapan Willy, dalam artikel ini kami kirimkan Email Pastor  Gani maupun SMS kedua putri kami kepada Willy juga ungkapan kesedihan dan simpati beberapa teman yang dikirm melalui email.

 

Re: [forum-iska] Berita Duka istri dari Prof. dr WF Maramis

Beberapa kali saya bertemu dengan Pak Maramis dalam rangka menimba pengetahuan tentang masalah keluarga. Setiap bertemu dengan Pak Maramis, beliau selalu didampingi oleh ibu. Saya salut dengan beliau berdua yang dalam bahasa Jawa seperti mimi lan mintuno. Memang dalam pertemuan sering Bu Maramis hanya duduk mendengarkan dan seingat saya jarang terlibat dalam diskusi yang terjadi. Tetapi bagi saya kehadiran itu merupakan kekuatan tersendiri. Sebuah kekuatan besar yang dapat meneguhkan seseorang dan mendorong orang untuk tetap bersemangat.                                                                                                         

Saya teringat ketika masih sekolah dulu. Setiap malam ketika saya dan saudara-saudara belajar atau mengerjakan PR, ibu selalu duduk di dekat kami entah membaca majalah atau menyulam atau melakukan hal-hal lain yang tidak menimbulkan suara. Kehadiran ibu membuat kami mempunyai semangat belajar dan belajar lebih serius.

Kehadiran Bapak dan Ibu Maramis sudah memberikan keteladanan bagi para pasangan suami-istri yang hendak mendapat pembinaan dari Pak Maramis. Banyak orang merasa dirinya berarti bila memiliki peran yang dapat dilihat atau dirasakan orang. Dalam pertemuan-pertemuan sering Ibu Maramis duduk diam. Orang akan merasa bosan bila hanya duduk diam dan tidak berperan. Apalagi saya membayangkan bahwa apa yang disampaikan oleh Pak Maramis bukan sesuatu yang baru lagi bagi Ibu Maramis, tetapi kesetiaan untuk duduk mendengarkan bersama kami merupakan keteladanan bahwa dalam kehidupan berkeluarga tidak selalu semua menjadi pusat.  Di sini dibutuhkan kesetiaan dan cinta yang besar untuk membiarkan diri tidak menjadi pusat. Membutuhkan kerendahan hati yang bersumber dari cinta yang mendalam.

Saya menulis bukan karena saya mengenal Ibu Maramis secara pribadi apalagi mendalam. Saya hanya melihat Bu Maramis dan berkenalan sepintas dalam beberapa kali pertemuan dengan Pak Maramis. Selamat jalan Bu Maramis, semoga benih yang ditaburkan terus akan bertumbuh dan berkembang dalam hati banyak pasangan suami istri yang pernah mendapat sentuhan nasehat dan keteladanan Ibu.
Salam
Gani, dari pedalaman Kalimantan Barat  

(Catatan : Pastor  J.Gani Sukarsono CM adalah Pastor Kepala Paroki St.VAP, Surabaya, yang pada November 2011 dialih tugaskan ke Serawai, Kalimatan Barat)

 

SMS dari Pauline

Oom Willy yg terkasih,  kami ikut sedih mendengar keberangkatan Tante Djok ke rumah Bapa. Namun seiring rasa duka, kami sadar bahwa Tante Djok sudah bebas dari segala derita badani yang beliau alami selama masa sakitnya. Terbersit rasa syukur karena Tante Djok sudah mengakhiri perjuangan iman dengan baik sampai garis Finish..., Finishing Strong.... Biar Bapa membuahkan kekekalan dalam segala pelayanan Oom dan Tante berdua.Terima kasih bahwa Oom dan Tante berdua sudah menjadi berkat buat Papa Mama saya, bahkan tante Djok sudah menjadi tempat curahan hati kepercayaan Mama selama ini...

Selamat jalan Tante Djok!  

 

SMS dari Ayline

Dear Oom Willy, kami turut bersimpati atas meninggalnya Tante Djok. Sungguh beruntung kami boleh mengenal beliau. Di bulan-bulan terakhir, tiga kali pertemuan bersama Tante Djok sungguh berpengaruh, dan membuat kami kagum. Di balik kelembutan dan kesederhanaannya, Tante Djok mempunyai nilai dan prinsip hidup yang begitu dahsyat. Dari Tante Djok kami melihat contoh nyata bahwa hidup harus dengan Total Faith. Mulai cerita yang tegang sampai yang membuat kami tergelak bersama. Mulai cerita tentang detil cara masak, cara mengemudi, sampai cara membesarkan anak dengan penuh iman. Tante Djok melakukan hal-hal kecil dengan penuh perhatian dan kasih, contoh waktu jadi “mandor spesial” pembangunan dan perbaikan rumah Margorejo, juga waktu mengajarkan memasak pada cucu. Pribadi yang berkarakter dan sederhana, yang tidak pernah mengeluh tentang penyakitnya, bahkan bisa bercanda tentang tantangannya, termasuk saat jatuh dan terbaring berbulan-bulan di Jakarta.                   

Selamat bahagia kekal abadi di hati Bapa Surgawi, tante Djok.

 

(Memang keempat anak kami, baik yang di Surabaya maupun yang di luar, serta cucu, juga akrab dengan Pasutri Djok Willy. Teringat sewaktu kami mau menghadiri upacara Penutupan Peti bagi Djok, cucu kami Jason dengan bahasa anak umur delapan tahun mengatakan:“Oma Lian, hatinya Oma Djok sekarang sudah di surga ya?”  Setelah kami iyakan, dia melanjutkan: Nanti tolong bilang sama Oma Djok kalau Jason mau pesan omongan: "Oma Djok, have a nice day".  Yah..., Djok yang kita cintai ini memang merupakan idola bagi tua-muda.)

 

 

Riana-Suarno

Kami merasa kehilangan Pioneer ME-Surabaya, yang menjadi panutan. Trimakasih Cik Djok, atas dorongan, semangat, cinta dan perhatian yang telah diberikan selama ini kepada kami semua, khususnya sebagai insan ME Surabaya. Semoga api cinta yang telah Cik Djok nyalakan tetap hidup di hati kami semua dan tidak akan pernah padam. Selamat jalan, Cik Djok, semoga bahagia di Surga! Semoga Willy & seluruh keluarga diberi kekuatan dan selalu dalam kasih dan perlindunganNya.We love you, we need you!

 

Endang-Agung                                                                                                                      

Kami dan seluruh komunitas ME Indonesia ikut berduka cita atas wafatnya Ibu Djok tercinta Kami doakan semoga arwah beliau diberikan tempat terindah di surga dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan oleh Nya. Selamat jalan sahabat seperjalanan tercinta. Teladan pelayananmu tidak akan lekang sepanjang masa, melainkan akan hidup terus di Distrik IV Surabaya.WLY, WNY.

 

Paula-Hantoro                                                                                                                         Kami Sungguh kami merasa kehilangan yang amat dalam dengan kepergian Bu Djok tercinta. Sosok yang jarang kami jumpai, baik sebagai istri, ibu, oma, sahabat dan penggerak ME di Distrik IV Surabaya.   Sosok yang sabar, rendah hati, penolong dan sederhana. Meskipun sakit, tetap menunjukkan kegigihannya untuk bisa tetap menjadi  berguna bagi siapa saja. Semoga teladan Bu Djok menguatkan kami. Biarlah Couple Power Djok-Willy meneladani kami semua.

Pak Willy, be strong and  take care of your health, we always love and  need you.Rest in peace Bu Djok !!    With our deepest love, Paula - Hantoro, my mom Paulina, Ellen, Wina and cucu-cucu

 

Erlin-Gunawan :                                                                                                                          

Selamat jalan menuju rumah Bapa di surga, Tante Djok yang terkasih, Bapa sudah menanti Anda.Kami merasa sangat kehilangan. Melihat, mendengar dan merasakan semangat pelayanan anda di ME, sungguh mendukung kami berdua untuk bertambah semangat dalam melakukan gerakan cinta kasih untuk para pasutri.
Semoga keteladanan anda bisa menginspirasi setiap pasutri ME.
Teriring doa-doa kami, untuk anda khususnya dan juga keluarga yg ditinggalkan.
Selamat berbahagia di surga.

Sr. M. Francine SPM

Saya juga menyampaikan ikut berduka-cita atas dipanggilnya Ibu Djok, Istri Dr Maramis, kembali ke pangkuan Tuhan. Kiranya beliau jauh lebih bahagia daripada kita yang masih sibuk hidup di bawah matahari ini, di muka bumi ini.  Semoga beliau menjadi perantara berkembangnya ME di mana-mana, agar banyak keluarga hidup mirip keluarga Dr Maramis dan keluarga Kudus di Nasaret... .  Salam dan doa.

Richard+Betty (Samarinda)

Selamat jalan Djok, kami yakin Tuhan sudah menanti dan menyambut Anda dirumah-NYA.
Kami berdua, memang belum pernah bertemu dengan Pasutri Djok+Willy, tetapi kami banyak sekali mendengar ceritera tentang bagaimana kalian membimbing (coaching) pasutri-pasutri  team dan imam-imam  team, bukan hanya untuk Distrik Surabaya bahkan untuk distrik-distrik  lainnya, termasuk Banjarmasin. Distrik Banjarmasin pada saatnya juga membantu kami di Samarinda.
Pelayanan kalian berdua meneguhkan kami dalam terus berusaha untuk menyebarkan ME,          "to reach the imposible dream." Kami turut bersedih atas meninggalnya Djok, doa-doa  kami akan selalu bersama kalian.

Pastor  Vian, Pr; Wisnu - Mulyati (Distrik XII Denpasar)
Yang terkasih. Willy,
Tidak ada kata terlambat untuk ikut belasungkawa untuk Djok yang telah dipanggil menghadap Bapa di Surga. Kami tidak mengenal secara dekat Pasutri Djok-Willy, tetapi kami mendengar banyak tentang pelayanan kasih pasutri ini untuk ME Indonesia, khususnya Distrik XII Denpasar. Semoga karena kemurahan Allah Bapa, Djok telah dipersatukan dengan para kudus Allah di Surga, dan Willy beserta keluarga selalu diberi penghiburan dan kekuatan lahir batin. Selamat jalan Djok, doa kami menyertai perjalanan Anda menuju terang cahaya wajah Tuhan kita. Amin. /BI/ER/KT

 

18 Dec 2017 12:42
Lian-Teddy Boedianto
Djok yang Tercinta, Idola Tua-Muda, Weekend ME, Pasutri ME,