News & Articles

Majalah Relasi

KAWIN CAMPUR DAN KONSEKWENSINYA

KAWIN CAMPUR DAN KONSEKWENSINYA

Saling mencintai, membuahkan saling memahami, saling pengertian, saling menghormati. Perbedaan agama, tidak dianggap sebagai masalah. Cinta diharapkan dapat meredam semua itu, demikian yang dialami oleh  Pasangan Toos-Irene. Namun ternyata perbedaan tersebut sempat menimbulkan beberapa ganjalan dan tidak dapat diterima begitu saja oleh putra pasangan Toos-Irene. Satu keluarga, satu iman, tentu menjadi dambaan setiap insan.  

 

Irene: Aku berkenalan dengan Toos semasa aku masih di bangku SMP kelas 3, sedangkan Toos kelas 1 SMA, di Banjarmasin. Entah bagimana saat itu ternyata  terjadi saling ketertarikan di antara kami berdua. Mungkin karena kami berdua punya persamaan minat, yakni kesenian. Toos manjadi salah satu pemain band di SMA nya, sedangkan aku penari klasik Banjar. Dari hari ke hari hati kami berdua semakin berbunga-bunga saja rasanya.

 

Toos: Saat itu seorang gadis mungil diperkenalkan kepadaku oleh salah seorang pamannya,. Masih sangat jelas terlintas di ingatanku, pada suatu pesta, aku sebenarnya sudah lama memerhatikan gerak-gerik gadis mungil, centil dan cantik tersebut. Terus terang saja aku sangat tertarik padanya saat itu, tetapi gengsi rasanya untuk menegurnya karena aku belum kenal. Sempat terlihat olehku gadis mungil ini membisikkan sesuatu pada seseorang yang ternyata adalah salah seorang familinya. Mereka kemudian menghampiriku, “Adiku pingin kenalan nih”. Pucuk dicinta ulam tiba, kata pepatah dulu. Kamipun berkenalan. Entah mengapa perkenalan tersebut  membuat aku menjadi sulit tidur malam itu. Selalu saja terbayang wajah gadis mungil itu.

 

Irene: Walaupun kata orang hanya “cinta monyet”, bayangkan usiaku yang masih 13 tahun saat itu, tapi rasanya semakin dekat saja hubunganku dengan Toos. Saat  lulus dari SMP, dan kemudian aku masuk ke SMA Negeri 1, yaitu tempat Toos besekolah. Semakin akrab saja relasi kami. Pada beberapa kesempatan, kami sering mengisi acara-acara kesenian. Aku menjadi penari klasik sedangkan Toos mengisi acara dengan Band-nya.

 

Toos: Saat yang paling kusenangi adalah bila kami mendapat kesempatan untuk manggung. Karena di belakang panggung kami mempunyai kesempatan untuk bertatap muka, ngobrol ke sana ke mari tanpa pernah merasa bosan. Apalagi bila sudah siap untuk menari, Irene berdandan secara tradisionil.  Dengan berdandan secara tradisionil, semakin cantik saja Irene bagiku. Waktu perpisahan akhirnya tiba. Aku lulus SMA, sangat berat rasanya ketika harus meninggalkan kota Banjarmasin. Terlebih lagi karena aku harus berpisah dengan Irene. Aku harus meneruskan kuliahku di Bandung.

 

Irene: Kepergian Toos ke Bandung untuk kuliah, membuat aku serasa tidak berdaya, tak ada lagi semangat, tak ada lagi keceriaan. Malas rasanya untuk melakukan segala sesuatu. Saling menulis surat adalah jalan satu-satunya untuk membunuh kerinduan kami. Seminggu sekali selalu menerima surat yang kunanti-nanti, dari Toos di Bandung. Terkadang timbul juga rasa khawatirku. Jangan-jangan Toos sedang asyik dengan gadis-gadis Bandung yang terkenal cantik dan agresif. Akhir tahun pelajaran pun tiba, aku lulus SMA. Yang lebih menyenangkan lagi, aku diijinkan untuk melanjutkan sekolah di IKIP Bandung. Berbunga-bunga rasanya, karena artinya akan bertemu dengan Toos lagi.

 

Toos: Setahun sudah kami terpisahkan oleh lautan, hanya surat menyurat yang merupakan media kami berkomunikasi. Tapi sekarang Irene sudah dekat lagi denganku. Kami sama-sama sekolah di Bandung, rumah tempatku indekos, tidak terlalu jauh dari rumah Irene tinggal bersama tantenya. Serasa makin dekat saja rasanya relasi kami berdua, tidak ada malam Minggu yang terlewatkan tanpa kami bertemu.

 

Beberapa tahun berlalu, akupun mulai bekerja di salah satu perusahaan kontraktor, sesuai dengan jurusan sekolahku, Teknik Sipil. Dengan penghasilan yang mulai stabil, maka terpikirlah untuk   membina rumah tangga bersama Irene. Tetapi kamipun mulai sadar, bahwa terbentang jurang pemisah yang cukup dalam di antara kami berdua, yakni masalah perbedaan keyakinan. Aku Katolik, sementara Irene adalah seorang Muslimah yang sangat taat. Kami berdua sadar bahwa selama ini kami telah hanyut dalam impian indah, terbuai oleh madunya berpacaran. Selama ini kalau sudah sampai pada issue perbedaan agama, jawabannya: “Kumaha  engke” alias “Gimana nanti saja”. Tetapi sekarang masalah ini benar-benar harus sudah mendapatkan jawaban yang konkret. Pertanyaan ini bukan hanya berkecamuk di antara kami berdua saja, melainkan juga sudah menjadi issue dalam keluarga Irene maupun keluargaku. Di dalam keluargaku sebenarnya issue agama tidak terlalu menjadi masalah karena terus terang saja, keluargaku juga tidak terlalu religius.

 

Irene: Pada saat kami merencanakan untuk menikah, ternyata kami sudah berpacaran selama 10 tahun. Sudah sepantasnyalah kedua orangtuaku mulai bertanya-tanya mengenai apa rencanaku ke depan dengan Toos. Setiap berbicara masalah ini dengan kedua orang tuaku, selalu saja masalah perbedaan agama yang muncul. Apalagi saat itu orangtuaku  merupakan orang terkemuka. Ayahku seorang bupati dan terkenal pula, sekaligus sebagai tokoh agama. Kedua orangtuaku memang tidak pernah menganjurkan kami berdua untuk putus, mungkin juga karena sangat mengetahui sudah bagaimana dekatnya kami berdua yang telah berpacaran selama 10 tahun. Tetapi desakan dari kiri-kanan, baik dari masyarakat sekitar maupun dari kalangan keluarga, sangatlah gencar. Semua menentang bila aku harus kawin dengan Toos. “Kok seperti tidak ada laki-laki lain yang Muslim saja?” demikian salah satu komentar dari familiku. Sangat bisa dimaklumi karena di daerahku, persentase populasi Islamnya mungkin sekitar 98-99%. Dapat dibayangkan betapa fanatik masyarakatnya. Ditambah selain pejabat di daerah, ayahkupun seorang yang ditokohkan di masyarakat daerah kami.

Kami akhirnya memilih kawin campur secara Catatan Sipil, yang pada masa itu masih dimungkinkan. Kawin catatan sipil, legal dan syah secara tata hukum di Negara Indonesia. Namun demikian ternyata belum menyelesaikan masalah, seluruh keluargaku tidak mengakui perkawinan tersebut. Bagi mereka haram hukumnya kalau aku tidur dengan Toos. Walaupun syah secara hukum negara tetapi tidak demikian menurut agama.

 

Toos: Dengan menjalani perkawinan di Catatan Sipil, ternyata malahan menimbulkan masalah baru bagi Irene. Seluruh kerabatnya bahkan sangat menghawatirkan bila kami sampai tidur berdua karena masih haram hukumnya. Aku melihat Irene semakin tertekan dan serba salah di lingkungan keluarganya.

Salah satu tantenya akhirnya mendekatiku dan melakuan approach. “Toos, bagaimana kalau untuk, menyelamatkan papi dan ibunya Irene dari masalah yang lebih serius lagi, kalian menikah saja secara Islam, untuk selanjutnya terserah kamu bagaimana menjalaninya”. Melihat situasi tersebut, tentu saja aku tidak mau membuat Irene dan kedua orangtuanya semakin menderita. Aku akhirnya mengiakan saja pernikahan secara Islam di Banjarmasin. Meski terjadi konflik batin dalam diriku, tetapi aku mendapatkan kelegaan juga, karena telah menyelamatkan Irene dan kedua orangtuanya dari situasi yang jauh lebih buruk lagi. Kini kami mengantongi 2 legalitas: syah secara catatan sipil dan syah secara agama Islam.

 

Irene:  Seperti umumnya pasangan yang baru berumah tangga, bahagia kami berdua hidup baru di Bandung. Secara materi memang pas-pasan, tetapi kami dapat mengelolanya berdua untuk dapat survive. Puteri pertama lahir disusul seorang putera 3 tahun kemudian. Aku taat menjalankan seluruh kewajibanku sebagai muslimah. Sholat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, bahkan sholat Tahajut seringkali kulakukan pada tengah malam. Sedangkan Toos juga tetap taat dalam menekuni agama Katolik. Hampir tidak pernah terlewatkan Toos setiap hari Minggu ke Gereja. Pada saat Toos mengikuti misa di gereja, terkadang aku menemaninya. Pada saat Lebaran, Toos selalu mengantarku untuk Sholat Ied, kemudian Toos menungguku di mobil. Kami benar-benar hidup berdampingan secara penuh toleransi, saling menghormati dan menghargai keyakinan masing-masing. Tak pernah ada problem di antara kami.

Masalah yang timbul adalah pada anak-anak kami. Anty, puteriku lebih berminat untuk mengikutiku, baik Sholat, pengajian dan kegiatan lainnya. Sedangkan Augie putera kami walaupun saat itu berusia sekitar 4 tahun, selalu menyatakan sikapnya. “Papa Augie kan orang Katolik, jadi Augie juga Katolik” Pernyataan semacam ini selalu diungkapkan setiap ada famili Irene yang mengajak untuk sholat atau pengajian.

Ternyata situasi rumah tangga kami saat itu secara tidak kami sadari telah menimbulkan kebingungan tersendiri bagi anak-anak kami. Masalah yang lain adalah, lingkungan tempat kami tinggal. Banyak tetangga kami yang seolah mencibir, karena kami tetap dianggap pasagan haram tinggal serumah. Pernah Augie, puteraku, pulang dari bermain di tetangga bertanya: “ Mama, anak haram itu apa artinya? kata tetangga Augie anak haram”. Bisa dibayangkan bagaimana shocknya aku mendengar pertanyaan itu. Sedih, kecewa, jengkel, marah, bercampur aduk rasanya.

 

Toos: Pada tahun perkawinan kami yang  ke-14, ternyata Tuhan memang maha besar. Tuhan masih melakukan  mujizatnya bagi kami. Tuhan telah menjawab doa-doa kami. Tanpa sepengetahuanku sebelumnya dan tanpa berunding denganku, suatu hari Irene mengajaku untuk menemui seorang pastor. Sudah dua kali aku menolak permintaannya, selalu saja aku jawab “Mau ngapain sih ke Pastor?”. Setelah setengah merengek, akhirnya mau juga aku mengantarkan Irene ke Pastor Hardjosoebroto, yang saat itu bertugas di Kathedral Bandung. Irene mengungkapkan kepada Romo, bahwa ia bermaksud mengikuti keyakinanku memeluk agama Katolik. Serasa disambar petir rasanya aku saat itu. Betapa tidak, karena hal ini sama sekali belum pernah diungkapkan oleh Irene saat itu.

Tidak kalah mengejutkan pula jawaban dari Pastor. “Kamu tidak perlu masuk Katolik. Daripada masuk katolik hanya ikut ikutan saja lebih baik menjadi Muslim yang serius. Yang lebih penting adalah pemberkatan perkawinan kalian yang sudah 14 tahun ini; kapan mau dilakukan?”  Saat itu adalah menjelang keberangkatan kami ke Inggris, karena Toos dikirim untuk tugas belajar di sana. Oleh sebab itu, pemberkatan gerejapun dilakukan 10 hari kemudian, setelah aku memenuhi seluruh persyaratan administratif dan proses rekonsiliasi di gereja Katolik.

 

Irene: Tuhan memang mempunyai rencana dahsyat bagi kami. Beberapa hari setelah pemberkatan perkawinan, kami berangkat ke Inggris. Setiap hari manakala Toos dan anak-anak pergi ke sekolah, aku mempunyai banyak waktu seharian untuk membaca Alkitab dan buku-buku rohani lainnya, sambil mendengarkan lagu-lagu rohani gerejani yang diberikan oleh teman-teman kami sebelum meninggalkan Indonesia. Dalam kesendirian di Cranfield ternyata membawa hikmat tersendiri bagiku. Aku semakin mantap untuk memeluk agama Katolik. Setiap Minggu kami sekeluarga mengikuti misa, walaupun belum dipermandikan, aku merasakan kedamaian.

 

Sepulang kami ke Indonesia, setelah melalui proses katekisasi yang cukup panjang, yakni dua tahun, akupun akhirnya di baptis secara Katolik oleh Pst. Hardjo sendiri bersamaan dengan puteriku, Anty. Sedangkan Augie telah dipermandikan terlebih dahulu. Keempat anggota keluarga sekarang Katolik. Keputusan kami ini membuahkan terpaan badai dari keluarga maupun lingkungan tempat kami tinggal. Tetapi bagiku badai pasti berlalu, aku tetap teguh pada jalanku.

 

Toos: Kami sekeluarga sekarang sudah berlayar dalam satu kapal, semua memeluk agama yang sama, Katolik. Bahagia rasanya, sekarang kami ke gereja bersama-sama, kami berbaris untuk menyambut komuni. Meskipun demikian bukan berarti kami sudah terhindar dari masalah dan persoalan. Jatuh-bangun masih kami alami, kerikil-kerikil yang menjadi sandungan sering kami jumpai. Banyak masalah yang kami hadapi, masalah finansiil biasanya menjadi problem utama. Sekali lagi Tuhan masih menunjukan kasih sayangnya pada kami. Tahun 1994, dengan penuh harap, serta tangisannya, Irene berhasil mengajakku untuk mengikuti WeekEnd Marriage Encounter, setelah dua WeekEnd sebelumya ajakannya menemui kegagala untuk meyakinkanku.

Ternyata, hasil kami megikuti WeekEnd ME, membawa cakrawala baru dalam relasi kami berdua. Meskipu masih tetap tertatih-tatih dalam membangun dialog dan relasi, kami sekarang punya tools dan terlebih lagi mempunyai komunitas. Di dalam komunitas ME kami biasa berbagi kasih, dalam tawa dan tangis kami. Saya tidak pernah bisa membayangkan bagaima kualitas relasi kami berdua seandainya dulu kami tidak pernah mengikuti WeekEnd ME. Sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih, maka kami berdua mempunyai komitmen untuk secara konkret berpartisipasi dalam gerakan mulia ini. Kami berdua menjadi team ME sejak tahun 2000, dan tetap akan aktif berkontribusi selama masih dibutuhkan oleh komunitas Marriage Encounter. We love you-We need you. /KT

18 Dec 2017 12:44
Toos - Irene
Marriage Encounter, Weekend ME, Kawin Campur,