News & Articles

Majalah Relasi

DENGAN DIALOG RELASIKU MENJADI BAIK KEMBALI

DENGAN DIALOG RELASIKU MENJADI BAIK KEMBALI

Sore itu, hujan telah dengan lebatnya mengguyur beberapa wilayah di daerah Bekasi, hingga beberapa tempat terjadi banjir. Kondisi itu tak menyurutkan rencana paskahan ME Dekenat Bekasi, pada 6 April 2013 lalu. Karena kondisi medan menuju Gereja Bartolomeus terbilang cukup berat, dengan hadangan banjir dan genangan air yang cukup dalam, akhirnya banyak teman pasutri yang membatalkan niatnya untuk hadir. Beberapa terpaksa parkir dulu di seberang Gereja, atau ujung jalan, menunggu air surut dan umat keluar dari misa. Meski kondisi demikian, toh masih berkumpul juga sekitar 26 pasutri di Lt 2, GKP, Gereja Bartolomeus, Taman Galaxi.

Sebagai puncak acara paskahan, disampaikanlah sharing dari pasutri Carolus-Niken dari Paroki Santa Clara, Bekasi Utara. Namun sebelumnya, acara yang juga dihadiri Pastor Paroki, Rm.Thomas Bani SVD ini, dihangatkan dengan gerak dan lagu yang komunikatif dipandu oleh pasutri Sigit-Nunik. Hal ini tentu membuat suasana menjadi hangat, santai dan meriah.

Berikut sharing Carolus-Niken. [Redaksi]

 

Niken
Tiga tahun terakhir ini Carolus telah beralih bidang pekerjaan, dari pekerjaan tehnikal ke marketing. Kedua jenis pekerjaan ini tentu saja memiliki karakter dan tuntutan yang sangat berbeda.
Dulu, jam kerja Carolus cukup teratur. Kami banyak waktu berdua, sering berkumpul, ngobrol dan makan bersama dengan anak-anak. Suasana ini cukup menyenangkan. Akan tetapi, sejak Carolus beralih pekerjaan, banyak perubahan yang terjadi, misalnya perubahan jadwal tiba di rumah. Carolus jadi sering pulang lebih malam, membawa pulang pekerjaan, banyak menerima telpon dan makin sering ke luar kota. Hampir tiap malam Carolus pulang dalam keadaan lelah. Kuajak ngobrol sebentar saja,  Carolus sudah ketiduran. Keadaan ini sangat membuatku merasa jengkel, marah dan frustasi. Terlebih bahasa cintaku adalah sentuhan dan prime time. Di depan anak-anak aku harus bisa menjaga emosi, hal ini makin membuatku uring-uringan. Aku bertingkah laku negatif, sering marah-marah tanpa sebab, dan  akhirnya relasi kamipun makin buruk dan semakin jauh.

Carolus
Tema APP 2013 adalah Makin beriman, makin bersaudara, makin berbela rasa. Tema tersebut sangat menantang buatku. Kepada siapakah sikap ini dapat kutunjukkan? Aku bagian dari komunitas ME, mencoba untuk menerapkan pada orang yang terdekat denganku, yaitu Niken, pasanganku. Niken yang dengan penuh cinta mengasuh kedua buah cinta kami, namun juga seorang sekretaris pemilik dari suatu perusahaan, Niken pastilah sangat sibuk di kantornya, sedangkan kedua anak kami sangat dekat dengannya.

Niken hampir setiap pagi bangun pukul 05.00, sebelum berangkat kerja mempersiapkan makan untukku dan anak-anak, mempersiapkan alat tulis dan perlengkapan sekolah lainnya. Pulang kerja sampai rumah antara jam 19.00–19.30, Niken langsung disibukkan dengan urusan dapur dan rumah tangga lainnya. Setelah itu secara khusus mengisi waktu emas anak-anak. Sedang aku bila tidak ada pekerjaan ke luar kota tiba di rumah sekitar pukul 20.30 – 21.30.

Dengan rutinitas seperti ini, mulai Senin sampai  Jumat menjadi hari yang sangat melelahkan bagi Niken dan juga diriku. Sering aku merasa jengkel karena pada saat aku pulang aku merasa tidak dianggap penting dan kurang diperhatikan. Relasiku dengan Niken menjadi jauh.

Niken
Setiap hari selalu ada downlight di antara kami. Sampai suatu hari Carolus ada pekerjaan di Bandung dan pulang  sudah larut malam. Sempat aku sarankan untuk bermalam saja di Bandung. Tapi Carolus menolak dan mengatakan “tidak Mam..., Papa harus pulang karena  mau tidur dengan mama dan anak anak”. Setelah tiba di rumah, Carolus tertidur sangat pulas masih dengan baju kerjanya. Dia tidur tanpa mandi. Makanan yang disiapkanpun tidak disentuh.

Saat melihatnya tertidur pulas itulah ada perasaan aneh yang menguasaiku. Tiba-tiba aku merasa iba. Aku seakan bisa ikut merasakan kelelahannya. Aku merasa bersalah. Selama ini aku memikirkan kepentinganku saja. Semestinya aku tahu bahwa pekerjaan barunya itu membuatnya lelah, baik fisik dan mental. Sikap negatifku pastilah membuatnya tidak nyaman.

Aku membuka diri untuk menerima ajakan Carolus untuk  berdialog. BPS Kebutuhanku akhir-akhir ini? Dalam dialog..., aku kemukakan bahwa kebutuhanku untuk ditemani dan dicintai sering tidak terpenuhi karena kesibukan barunya. Akupun menanyakan kepada Carolus bagaimana perasaannya dengan pekerjaan barunya belakangan ini. Awalnya sulit untuk berdialog dengan baik karena aku masih membawa kepentinganku. Dialog tidak berjalan lancar. Tetapi kami terus berdialog beberapa kali. Sampai aku benar-benar memahami kebutuhan dan dapat menerima perasaan Carolus sehingga kami dapat memperbaiki relasi kami menjadi lebih baik. 
Aku mulai memahami betapa selama ini Carolus lelah lahir dan batin. Lelah dengan pekerjaan barunya yang penuh tantangan, juga lelah menghadapi sikapku yang sering uring-uringan tanpa sebab. Sebenarnya Carolus pun ingin punya banyak waktu untuk bersamaku, tetapi karakter pekerjaan barunya membuat waktu dan tenaganya jauh lebih banyak terkuras. Kamipun selalu membawa persoalan kami dalam doa bersama setiap malam. Kami mohon bantuan Tuhan untuk menguatkan iman kami. 

Sejak saat itu aku berusaha berubah. Aku sadar Tuhan memberikan berkat yang luar biasa kepada Carolus dan keluarga kami. Carolus mendapatkan ilmu dan pengalaman baru yang akan membuatnya lebih maju. Pekerjaan barunya memberi kesejahteraan yang makin baik kepada keluarga kami.

Setelah didialogkan, aku melihat Carolus pun banyak berubah. Meskipun dia tetap saja sibuk, tetapi tetap punya waktu bagiku dan anak-anak kami, terutama pada saat weekend. Aku merasa senang. Sekarang, aku sangat menikmati acara pagiku menemani Carolus siap-siap bekerja. Meskipun kadang aku sendiri masih ngantuk dan masih ingin tidur lebih lama, tapi sekarang aku selalu menyiapkan bekal makannya dan menemaninya sarapan. Tidak seperti dulu, aku malas bangun utk melakukan hal tersebut. Setiap akhir minggu, kami mencari waktu untuk bisa berdua  untuk secara khusus mendialogkan kegiatan kami, dan tanki cinta kami dapat terisi kembali. ?Sekarang, hari-hari bisa kulalui dengan lebih menyenangkan. Relasi kami jadi intim dan akrab.

Carolus

Hampir setiap malam Niken ditempel oleh anak-anak dan sering kali pada waktu aku pulang kerja, Niken sudah berbaring tertidur bersama anak anak. Sedangkan aku tidur sendirian. Hal ini sering terjadi dan “ini bukan  yang aku inginkan dalam hidup perkawinanku”, pikirku. Pada suatu hari aku mengajak Niken untuk berdialog, dan  BPS  mengenai perasaan kami.

Dalam dialog, aku berusaha mendengarkan dan merasakan perasaan-perasaan Niken yang timbul akhir-akhir ini, ber-empati terhadap kondisi fisik dan mentalnya juga. Kami sepakat untuk mencari jalan yang terbaik untuk bersama-sama meluangkan waktu sehingga keinginan kami masing-masing terpenuhi.

Ternyata seperti yang aku rasakan, Niken juga ada kebutuhan yang tidak terpunuhi. Sebagai seorang Katolik, tentunya aku harus mencoba menahan diri untuk tidak marah. Aku berusaha memberikan waktu berkualitas bersama Niken dan anak-anak, yaitu melalui kegiatan atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Walaupun fisikku sendiri juga sudah lelah, tetapi aku merasa senang, aku bisa mengerjakan sebagian yang dikerjakan Niken, misalnya membantu  menyiapkan keperluan sekolah anak untuk esok hari dan merapikan kamar mereka. Aku bisa semakin terlibat pada anak-anak. Hasil dialog membuat relasi menjadi baik dan bertanggung Jawab./BI/TK/KT.

11 Oct 2018 17:52
Carolus-Niken
mejakarta, dengan dialog relasiku menjadi baik kembali, dialog mejakarta,