News & Articles

Majalah Relasi

Transformasi Diri dari Dicintai Menjadi Mencintai

Transformasi Diri dari Dicintai Menjadi Mencintai

Transformasi diri

Salah satu nilai ME yang selalu diperjuangkan dalam relasi suami isteri adalah transformasi diri. Artinya bahwa setiap pasangan hendaknya merubah diri sendiri untuk memahami pasangannya dan tidak pernah boleh merubah pasangan apalagi agar menjadi seperti diriku. Transformasi berarti suatu proses perubahan bentuk, sikap, perilaku diri manusia menuju ke arah kematangan pribadi. Transformasi diri bagi kehidupan perkawinan adalah suatu perubahan diri pasangan melalui suatu formasio (pembinaan) baik itu selama week end, renewal, enrichment, KD dan kegiatan yang membina pasutri. Dari formasi terhadap pasangan diharapkan muncul transformasi diri. Banyak hal dalam kegiatan ME tidak semua pasangan suami istri (pasutri) menangkap makna nilai universal yang kaya bagi kehidupan kepasutrian. Contoh: kemampuan mendengarkan. Ini suatu nilai yang seharusnya dimiliki para pasutri, untuk dapat berkomunikasi dengan baik perlu setiap pasangan memiliki kemampuan mendengarkan. Ini prinsip dasar, suatu nilai yang harus dimiliki setiap pasangan suami isteri baik yang sudah ME maupun non ME. Tapi persoalannya tidak semua pasangan suami isteri telah berubah oleh nilai itu, meskipun telah diberikan dalam formasio di ME (week end, renewal, enrichment dll). Untuk itu langkah setelah formasio adalah pembatinan nilai-nilai ME kemudian pertobatan dan perubahan diri (transformasi diri). Di sinilah pesan Hari Raya Paskah yang dirayakan umat Katolik setiap tahun. Yesus menerima proses formasio dari Allah Bapa-Nya, selama 30 tahun bersama keluarga Dia menyiapkan diri untuk melakukan pembatinan dan perubahan diri tampil di depan publik selama 3 tahun dengan suatu penyerahan hidup pada kehendak Allah Bapa-Nya. Dia menyelamatkan manusia melalui transformasi diri meskipun Allah Dia tidak mempertahankan keilahiannya dan menjadi manusia, dengan berkorban dan menyerahkan nyawa di kayu salib. Itulah kasih Kristus yang menjadi dasar hidup suami istri (bdk. Ef 5:22-33). Paskah berarti bagi para pasutri ME jika ada transformasi diri dan dalam hal ini transformasi dari dicintai menjadi mencintai (from receiver love to giver love).

Unsur hakiki dan tujuan perkawinan

Dalam setiap persiapan perkawinan sudah banyak materi yang diberikan oleh petugas KPP (Kursus Persiapan Perkawinan) seperti misalnya tentang ekonomi keluarga, sakramen perkawinan, spiritualitas perkawinan, namun belum banyak bahan yang diberikan menyangkut hal pokok seperti unsur-unsur hakiki dan tujuan perkawinan. Apa saja unsur-unsur hakiki dan tujuan perkawinan? Kanon 1055,§1 menyatakan perkawinan terarah pada dua tujuan: “dari kodratnya perkawinan terarah pada kesejahteraan suami-isteri, kelahiran dan pendidikan anak”. Hal yang sama tentang “bonum prolis” dinyatakan dalam GS, no. 50 bahwa tujuan perkawinan untuk kelahiran dan pendidikan anak. Bonum coniugum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti kesejahteraan suami-isteri. Kesejahteraan suami isteri merupakan tujuan personal dari perkawinan, sekaligus merupakan unsur hakiki dari perkawinan. Maka jika hal itu tidak ada dalam perkawinan otomatis perkawinan itu dapat dianulir. Mengapa demikian? Karena suami atau isteri atau keduanya tidak menyadari atau tidak memiliki unsur yang fundamental (hakiki) dalam membentuk perkawinan, sehingga perkawinan itu tidak ada (tidak eksis) ketika perkawinan diteguhkan. Dan dalam kenyataan perkawinan (matrimonium in facto esse) yang demikian itu, banyak yang bubar karena tidak adanya kesejahteraan secara personal dalam perkawinan seperti cinta personal. Banyak perkawinan saat ini yang mengabaikan unsur kesejahteraan suami-isteri selain personal (mental) juga ekonomis (keluarga yang tidak bertanggungjawab atas nafkah hidup sebagai suami-isteri dan anak). Mereka tidak memiliki selain pengetahuan juga kesadaran dalam membangun keluarga yang sejahtera. Maka setelah beberapa tahun mereka gagal dan bubar perkawinannya. Mengapa? Karena salah satu unsur hakiki perkawinan tidak ada saat perkawinan diteguhkan, sehingga disebut cacat dalam konsensus. Dalam benak pikiran pasangan yang mau menikah tidak dimiliki unsur bonum coniugum. Kesejahteraan yang dimaksudkan dalam kodeks ini aspek ekonomi/materi dan juga rohani/mental.

Kanon 1055, §1: ciri kodratnya perkawinan terarah pada kesejahteraan suami-isteri

Kanon 1055, §1: menyatakan bahwa “Perjanjian (foedus) perkawinan, dengannya seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan (consortium) seluruh hidup, yang menurut ciri kodratnya terarah pada kesejahteraan suami-isteri (bonum coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak (bonum prolis), antara orang-orang yang dibaptis, oleh Kristus Tuhan diangkat ke martabat sakramen (bonum sacramentum). Bila kita telisik lebih dalam sebagai sebuah materi dalam KPP dan sekaligus menjadi bantuan bagi para penggerak KPP, makna “bonum coniugum” sungguh penting. Praksis hidup perkawinan terarah pada tujuan personal perkawinan yakni suami dan isteri dalam perjalanan hidup perkawinan memiliki kesejahteraan hidup (ekonomi/materi dan mental/rohani).

Transformasi “bonum coniugum” dari dicintai menjadi mencintai (aspek mental/rohani)

Dalam hidup suami isteri, “bonum coniugum” menghendaki agar gagasan cinta berubah dari dicintai ke kedewasaan untuk mencintai. Hal ini membutuhkan waku yang lama, bertahun-tahun dalam hidup perkawinan nyata dengan “melupakan diri sendiri” (egosisme) dan mengutamakan pasangan. Dengan mencintai pasangan suami atau isteri masing-masing meninggalkan sel penjara kesepian dan keterasingan yang disebabkan oleh sikap yang terpusat pada diri sendiri (self centeredness). Dengan mencintai, masing-masing akan merasakan arti persatuan baru, arti “menjadi satu daging”, arti persekutuan hidup (consortium totius vitae).

Lebih dari itu, masing-masing merasakan potensi membangkitkan cinta dengan mencintai, bukan karena ketergantungan untuk menerima dengan dicintai dan karena itu harus menjadi kecil tak berdaya, melainkan sebalikya aku dicintai karena aku mencintai pasangan. Cinta yang tidak dewasa (kanak-kanak) berkata aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu, sebaliknya cinta yang dewasa akan mengatakan: aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.

Kesejahteraan suami isteri sebagai unsur hakiki dan tujuan personal perkawinan, membutuhkan cinta tanpa syarat. Dalam perkawinan, “bonum coniugum” sebagai unsur hakiki dan tujua menghendaki agar suami isteri tidak saling memanfaatkan. Masing-masing harus belajar berdialog dengan saling mencintai satu sama lain tanpa syarat. John Powel merangkum pandangannya tentang apa yang biasanya terjadi atas suami isteri yang berubah dari dicintai menjadi mencintai dan menemukan kesempurnaan dalam hidup. Ada lima hal pokok transformasi “bonum coniugum“ dari dicintai menjadi mencintai:

  1. Menerima diri sendiri: orang yang yang sepenuhnya giat menerima dan mencintai diri mereka sendiri apa adanya,
  2. Menjadi diri sendiri: orang yang sepenuhnya bebas meneriman jati diri mereka yang sesungguhnya,
  3. Melupakan diri sendiri: belajar menerima dan menjadi diri mereka sendiri, suami isteri secara utuh dan total giat mengembangkan diri untuk mencintai pasangan,
  4. Percaya: belajar melampaui perhatian yang hanya terarah pada diri sendiri dan percaya pada pasangan serta menemukan makna dalam hidup berpasangan,
  5. Memiliki: hidup yang utuh, menjadikan hidup sebagai rumah yang memilki rasa kebersamaan.

Dalam proses mencintai itu ada 3 tahapan penting. Pertama, kemurahan (kindness): kepastian kehangatan bahwa aku di sisimu. Aku peduli padamu. Dalam tahap ini dasar cinta adalah pernyataan untuk memerhatikan kebahagiaan orang yang dicintai dan penegasan-kepastian atas harga diri pribadi. Kedua, dorongan (encouragment): menganggap pasangan sebagai sumber kekuatan dan memberikan ruang yang bebas bagi pasangan untuk berkembang. Powel menyebutnya sebagai cinta pasangan yang membebaskan. Bagi dia, cinta berarti memberikan seseorang akar rasa memiliki, dan sayap rasa mandiri dan kebebasan. Mendorong berarti memberikan keteguhan hati kepada pasangannya. Ketiga, tantangan (challenges): menyatakan kepastian mencintai adalah keputusan dan tegas untuk bertindak. Setelah menyatakan kemurahan ”aku ada untukmu” dan memberikan keteguhan hati “kamu dapat melakukannya”, cinta sejati harus mengajak pasangan untuk berkembang; bertumbuh melampaui batas-batas egoisme diri, mengatasi apa yang selalu dipandang terlalu sulit, memberantas kebiasaan pasangan yang merusak diri sendiri atau pasangan, mengatasi rasa takut untuk jujur dan percaya pada pasangan, mengungkapkan perasaan yang tertekan pada pasangan, menghentikan dendam, memberi maaf dan pengampunan yang menyembuhkan pasangan. Dengan cara itu (proses transformasi diri) kita para suami isteri dapat merayakan Paskah dan menikmati buah-buah rahmatnya. Selamat hari raya Paskah 2010.

29 May 2017 11:58
Rm. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr
Transformasi diri,