News & Articles

Majalah Relasi

Berkeluarga Berarti Berani Untuk Berubah

Berkeluarga Berarti Berani Untuk Berubah

Manusia cenderung memilih untuk tidak berubah apabila sudah merasa nyaman dan aman. Untuk apa berubah kalau hidup sudah enak begini? Itulah alasan orang-orang yang menikmati status quo, tidak mau berubah. Perubahan sering menuntut usaha lebih, bahkan pengorbanan yang kadang menyakitkan. Perubahan membuat seseorang menjadi lebih repot. Orang bisa merasa tak nyaman karena harus menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru. Padahal banyak kisah keberhasilan berawal dari kemauan dan kemampuan untuk berubah. Para motivator menganjurkan kita untuk berubah. Perubahan itu menarik bagi banyak orang. Maka para calon dalam pemilu selalu menawarkan perubahan. Demikianlah keberhasilan Obama menjadi Presiden Amerika Serikat    karena promosinya yang kuat semasa kampanye dengan slogan "Change we can believe in" yang dimeriahkan dengan nyanyian: "Yes we can!"  Orang diyakinkan akan adanya perubahan. Orang pun tertarik. Sekalipun cenderung untuk tidak berubah, orang tahu bahwa dalam hidup harus ada perubahan, apalagi kalau mau menjadi lebih baik. Perubahan adalah suatu keharusan. Tinggal sejauh mana orang mau, berani dan mampu untuk berubah.

 

Lihatlah kehidupan alam. Itulah perubahan. Alam menuntut perubahan supaya hidup. Bagaimana mungkin ada orang yang tak mau berubah. Nyatanya ada orang yang cenderung untuk tidak berubah entah karena tidak mau atau tidak mampu atau bahkan tidak berani. Pertumbuhan badan manusia dari bayi pun sudah jelas menunjukkan perubahan. Untuk itu, perubahan bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan lagi. Setiap orang harus berubah.  

 

Salah satu perubahan besar dalam hidup manusia adalah keputusan untuk hidup berkeluarga. Di sana seseorang bukan lagi sendiri seperti saat ia masih membujang; segala-galanya bisa ditentukan sendiri dan untuk diri sendiri. Setelah menikah orang bukan lagi sendiri tetapi menjadi berdua. Ia harus memikirkan bukan hanya hidupnya sendiri, tetapi hidup pasangannya, termasuk kelak hidup anak-anaknya. Akan tetapi, sekalipun dua, ia telah menjadi satu dengan pasangannya. Itulah yang disampaikan Kitab Suci: "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." (Kej 2: 24). Kenyataan ini membawa perubahan besar dalam hidup yang menuntut perubahan pribadi agar sesuai dengan maksud institusi keluarga yang dibentuk.

 

Berbagai masalah keluarga terjadi karena pasangan tidak berani dan atau tidak mampu berubah. Bagaimana mungkin, orang yang hidup dalam perkawinan masih memikirkan hidupnya seperti saat ia membujang? Keputusan untuk menikah itu sendiri sudah membawa konsekuensi untuk keluar dari diri sendiri; pergi dari egoisme; mematikan benih individualisme dengan mengarahkan diri pada pasangan. Kalau tidak berubah, orang menikah hidup bagai bujangan seperti lirik lagu yang dinyanyikan Koes Plus tempo dulu. "Begini nasib jadi bujangan; Ke mana mana asalkan suka; Tiada orang yang melarang; Hati senang walaupun tak punya uang; Hati senang walaupun tak punya uang; Apa susahnya hidup bujangan; Setiap hari hanya bernyanyi; Tak pernah hatinya bersedih." Hal ini tak boleh terjadi lagi dalam diri orang yang berkeluarga. Itulah sebabnya ada masalah keluarga yang disebut single married, yaitu situasi di mana orang-orang menikah bertingkah seperti bujangan dengan memikirkan dan melakukan sesuatu atau beberapa hal atau bahkan semuanya sendiri tanpa komunikasi dengan pasangannya: ke mana pun pergi asal senang tak usah pamit; yang penting senang.  Orang menikah harus berubah.

 

Sakramen Perkawinan dengan sangat jelas menuntut orang untuk membahagiakan pasangan. Oleh karena itu, salah satu tujuan perkawinan Katolik adalah demi kebahagiaan pasangan (bonum coniugum) dan kesejahteraan anak-anak (bonum prolis). Untuk mencapai tujuan perkawinan tersebut, tak mungkin tanpa perubahan dari suami dan istri.

 

Apa yang harus berubah? Seluruh hidupnya harus berubah. Gravitasi hidupnya bukanlah dirinya sendiri, tetapi keluarganya. Perspektif hidupnya adalah keluarga, yaitu pasangan dan anak-anaknya. Secara spiritual, orang diajak untuk memaknai kehadiran suami atau istrinya sebagai anugerah yang dikaruniakan Allah untuk mendampingi dan untuk dicintai dalam perjalanan menuju kekudusan diri dalam kebersamaan keluarga. Di situ orangtua diundang untuk memahami kelahiran anak-anak sebagai anugerah istimewa dari Allah yang patut disyukuri dan yang menyempurnakan persekutuan cinta mereka. Secara finansial, orang yang berkeluarga bertanggungjawab membiayai bersama seluruh kehidupannya. Artinya tanggungjawab kesejahteraan material dipikul bersama suami-istri sekalipun cara mengatur dan mengurusnya bisa berbeda-beda. Secara sosial, pasangan suami-istri adalah persekutuan eksklusif yang tak bisa diganggu oleh pihak ketiga siapapun dan dengan alasan apapun. Mereka bukan lagi bujangan, tetapi suami-istri. Secara legal, pasangan suami-istri saling bertanggungjawab hidup sesuai dengan aturan. Secara mental, pasangan suami istri mengarahkan seluruh hidupnya demi kebersamaan. Kini mereka bukan lagi mengatakan "saya" atau "kamu", melainkan "kita". "Mentalitas kita" harus menggantikan "mentalitas aku atau kamu". Secara sakramental, suami-istri akan bersatu untuk selamanya. Perubahan itu tampak secara nyata dalam perubahan kepentingan dan kesenangan seseorang.

 

Berbagai perspektif di atas menuntut perubahan mutlak dari seseorang yang memutuskan untuk berkeluarga. Tak mungkin keluarga yang dibangun akan bahagia dan sejahtera sebagaimana dicita-citakan tanpa ada perubahan nyata. Orang mungkin bisa terpaksa berubah. Orang mungkin bisa tak mampu berubah. Akan tetapi, ketika ada cinta (manusiawi) yang berkobar-kobar terhadap pasangannya yang ditopang oleh kasih ilahi, orang akan berani bahkan bergairah untuk berubah. Kalau memiliki cinta pada pasangannya, orang akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan pasangannya melalui perkataan dan perbuatannya. Cinta itulah yang mendorong seseorang untuk berubah. Cinta tidak menuntut perubahan. Cinta mendorong ia berubah.

 

Semakin dekat dengan Tuhan, orang kian punya kasih pada sesama. Passion for Christ menumbuhkan passion for others. Orang memiliki passion for Christ dan passion for others akan lebih lagi mengasihi pasangannya. Saat mengasihi pasangannya, dalam dirinya pun tumbuh dare to change demi pasangannya. Keberanian untuk berubah lahir dan berkembang karena orang mencintai pasangannya dan mengasihi Allah yang menganugerahkan pasangan hidupnya.

 

Dalam perjalanan hidup kadang pasangan tak sadar. Mereka saling menuntut untuk berubah, bahkan akhirnya saling menyalahkan karena pasangannya tak mau berubah. Untuk mencapai tujuan sakramen perkawinan, orang harus menumbuhkan keberanian dan gairah untuk berubah bukan untuk mengubah. Perubahan itu dimulai dari diri sendiri. Janganlah mau mengubah pasangan tanpa merubah diri. Janganlah mengharapkan terjadi perubahan pada pasangan kalau diri sendiri tak berani berubah.

 

"Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: 'Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!' 'Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: 'Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas.' 'Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: 'Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri.' Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!' Kisah dari buku "Burung Berkicau" karya Anthony de Mello SJ (1994) mengajak kita untuk mulai mengubah diri sebelum berharap orang lain berubah.

 

Dengan demikian, para suami dan istri kini akan berdoa: "Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri supaya menjadi suami atau istri yang baik; menjadi ayah atau ibu yang baik; serta menjadi pasangan harmonis dan menjadi keluarga kudus." Masalah dalam keluarga saat ini terjadi karena suami atau istri kurang berani, mau, dan mampu berubah karena terlalu menuntut orang lain, yaitu pasangan atau anak-anak untuk berubah? Berubahlah mulai dari diri sendiri. Semoga kita mempunyai keberanian untuk berubah. Marilah kita serukan: "Berubah siapa takut! Berubah siapa malu! Berubah saya mau. Berubah saya mampu. Berubah saya berani!" "Selamat berubah!" Ut diligatis invicem /BI/ER/KT

30 May 2017 09:00
Mgr Antonius Subianto B, OSC
Berani berubah, berkeluarga, Mengenal ME,