News & Articles

Majalah Relasi

"Bloom Where Are You Planted" Enrichment ME Distrik XII Denpasar

"Bloom Where Are You Planted" Enrichment ME Distrik XII Denpasar

Komunitas ME Distrik XII, Denpasar, telah menyelenggarakan Enrichment pada Minggu, 13 Januari 2013, bertempat di Singaraja, Bali Utara, dengan tema “Bloom Where Are You Planted”. Dibawakan oleh team yang terdiri  Pastor Wanta, Pasutri Rusli–Elly dan Pasutri Chris-Lely. Berikut sharing yang disampaikan oleh Pasutri Hirawan-Sisil, yang ketika itu harus memilih antara ikut Enrichment atau memberikan Kursus Persiapan Perkawinan & Rekoleksi bersama teman-temannya di Paroki Katedral. Tetapi karena keinginan untuk mengikuti Enrichment sangat kuat akhirnya mereka  sepakat untuk mengatur waktu. “Puji Tuhan semuanya bisa dilaksanakan dan kamipun memperoleh kesempatan mengisi diri dengan Enrichment, yang sangat menarik dan memperkaya kami, baik sebagai pasutri maupun aktivis dalam beberapa kegiatan di Gereja”, kata mereka.

 

 

Apakah kita telah berserah kepada Allah? Mengapa ada penderitaan dalam hidup manusia? (Ayub 33:19; Amsal 18:14; Mat 16:21; Filipi 3:10; Ibrani 2:9)

 

Hirawan

Aku terlahir sebagai salah satu dari 8 bersaudara, aku anak yang ke-6. Kedua orangtuaku petani. Sejak kecil aku selalu sedih dan cemas, karena kondisi keluargaku. Ketika aku SD, aku harus menjaga dan mengurus kedua adikku yang masih balita. Tanah, rumah tempat tinggalku dan sawah orang tuaku sudah digadaikan oleh paman. Jadilah kami sekeluarga jadi ogoh–ogoh di tanah kami sendiri.

 

Setelah menikahpun kami harus mengajak kedua adikku dan juga orangtuaku. Selain itu masih ada juga keponakan-keponakan yang datang silih berganti. Saat itu dalam hati aku bertanya, “Mengapa keluarga kami yang menderita terus menerus, sedangkan orang lain hidup damai, rukun saling memberi. Sampai kapan hal ini akan berlangsung?” 

 

Aku lupa berterima kasih pada Tuhan. Keluargaku walau hidup pas-pasan bisa rukun. Aku lupa bersyukur, bahwa kami semua diberi kesehatan oleh Tuhan dan diberi orangtua yang rukun.

 

Sisil

Masa kecilku bersama kedua kakakku mestinya sangat bahagia karena bapakku seorang pegawai negeri di kantor pembantu Gubernur Kedu, sehingga aku bisa merasakan punya pembantu, punya rumah gedong. Namun sayang, kondisi itu  berlangsung tidak lama. Saat aku masih berusia 4 tahun ibuku tiba-tiba meninggal dunia, aku jadi bingung dan sering merasa kesepian. Setelah setahun berlalu, bapakku menikahi seorang janda beranak satu yang umurnya lebih tua dari kakakku yang sulung.

 

Ada beberapa hal yang membuatku sedih dan jengkel ketika itu. Ibu tiriku membuka warung dan memintaku untuk mengurus dan menjaga setiap hari, sehingga aku tidak  ada waktu lagi untuk bermain, yang ada hanya kerja, kerja dan kerja. Tak lamapun, rumahku harus dijual karena ulah kakak tiriku yang kerja rentenir namun bangkrut, sehingga dari menempati rumah gedong  yang bagus, harus pindah ke rumah gedeg dan jauh dari jalan raya, kami semua jadi bengong dengan nasib yang menimpa kami. Kakakku yang sulung juga berulah, beliau tidak bertanggung jawab pada ke 4  anaknya. Selain itu, ia juga tidak mau tekun pada pekerjaan yang sudah baik.

 

Dalam pikiranku, hanya akulah yang punya nasib sial seperti ini. Timbullah pertanyaan, “Mengapa ibuku begitu cepat dipanggil Tuhan? Mengapa ayahku menikah dengan janda beranak satu? Andaikata ayahku tidak menikahi janda beranak satu, hidupku pasti masih bisa bahagia....”, begitulah pikirku saat itu. Kami lupa bersyukur bahwa bapakku masih jadi pegawai negeri, aku lupa bersyukur dalam situasi sulit aku masih dapat bea siswa untuk sekolah perawat dan bidan.

 

Apa Pengertian Kebahagiaan dan Penderitaan?

 

Hirawan

Bagiku kebahagiaan adalah bisa mempunyai ini dan itu, sehingga aku boleh juga seperti orang lain, tidak harus bekerja keras, tidak harus makan makanan yang sudah minim masih harus dibagi berdelapan, bahkan bersepuluh karena plus orangtuaku. Namun aku lupa, bahwa dalam kondisi serba kekurangan juga bisa bahagia. Walau miskin, kami tidak diberi sakit yang berat, dan ini tentunya juga merupakan kebahagiaan. Kami 8 bersaudara tidak saling mencaci-maki, bahkan  mampu berbagi dalam hal-hal kecil. Ini tentu  juga kebahagiaan. Pada  awal kami menikah, rumah yang kami bangun belum ada jendela dan pintu untuk ruang tamu, juga belum ada lantai keramik. Saat itu dengan bangga kukatakan, “Ini rumah kami”. Ternyata hal itu sesungguhnya juga kebahagiaan yang boleh kami alami walau dalam kehidupan yang sederhana. Saya bersyukur diberi istri yang sabar, hemat dan teliti, anak–anak masing-masing punya tanggung jawab, serta diberi rejeki yang cukup.

 

Sisil

Mengapa hidup yang harus kualami sangat pahit sejak kecil, sedangkan orang lain punya orangtua lengkap. Yang punya ibu tiri, dan saudara tiri, tapi juga tidak membuat keluarga mereka menderita seperti diriku. Namun rupanya  aku lupa bahwa  pengalaman pahit yang boleh kualami membuat diriku  bertumbuh menjadi orang dengan hidup yang  lebih baik, menjadi lebih sabar, teliti, hemat, jujur, rapi sehingga mempunyai banyak teman serta disayangi pasien. Bahkan menjadi menantu yang boleh berbangga karena selama 25 tahun bisa hidup bersama mertua. Aku bisa cocok dan dipuji ipar-iparku. Siapa yang tidak merasa bangga dan bahagia padahal resepku sederhana bersama mertua harus sabar dan mengalah. Padahal di banyak tempat bisa terjadi perang antara menantu-mertua yang semakin terang-terangan bahkan saling mengancam, melukai dan menyakiti.

 

“Kemiskinan Kita adalah Tempat Allah Bersemayam” (Pastor Henri Nouwen)

 

Hirawan 

Walau aku miskin dan sangat miskin, namun saat kecil ke gereja menjadi ajudah dan itu kulakukan dengan senang hati. Saat remaja aku punya kebiasaan menolong teman mencarikan pekerjaan di kota. Dan ketika terpilih sebagai ketua MUDIKA (OMK) kujalani dengan penuh tanggung jawab.  Mudika yang tidak pernah aktif mau aktif, kas yang dulunya kosong mampu terisi, sehingga apapun rencana bisa terwujud karena dana mendukung. Bahkan aku jadi ketua mudika hingga 3 periode. Setelah menikah semangat melayani tidak berubah walau aku tidak kaya untuk bisa memberi, namun aku punya pemikiran-pemikiran dan tenaga dalam setiap tugasku dari pendamping mudika, lalu menjadi Dewan Gereja dalam 2 kali periode. Ada banyak yang bisa kita buat kalau mau bekerja tanpa mengeluh atau banyak menuntut. Aku memang tidak pandai, tapi prinsipku adalah harus dipercaya orang sehingga semua pelayananku  selalu kuawali dengan  berserah pada Tuhan yang selalu melengkapi kekuranganku.

 

Sisil

Saat diriku bersama ibu dan kakak  tiri sejak usia 4 tahun, kupikir aku harus mengerti bahwa aku harus menerima kenyataan ini. Aku tidak mau membanding-bandingkan atau menyimpulkan ibu tiri itu pasti jahat, namun aku coba bagaimana menghindari kena marah. Di saat aku diberi tugas, selalu  kubereskan lebih dulu tugas itu, setelah itu baru aku bermain atau mengerjakan tugas belajar kelompok sehingga nyaris kemarahan ibu tiri hampir tidak pernah kudapatkan. Pengalaman ini ternyata sangat berguna bagiku di saat kerja bersama orang lain. Aku lebih bisa memahami karakter orang, juga karakter pimpinan tempatku bekerja. Hal ini ternyata memberi kebahagiaan tersendiri dalam jalan hidupku. Termasuk setelah menikah aku mampu mengajak  2 orang iparku,  mertua dan 8 orang keponakanku. Aku tidak banyak punya uang, namun Tuhan mencukupkannya dan keluarga  besar  kami bisa berjalan dengan mulus, ipar-iparku cukup dekat, bahkan berani minta uang padaku. Keponakan- keponakanku mau dibimbing dan terutama mau ditegur. Kini semua sudah berumah tangga dan  mandiri. Semua ini mampu kulakukan dan  kuncinya adalah doa dan doa, agar aku diberi kekuatan dan kesabaran.   Roma 6;13

 

Doa Menyelamatkan Kita

Markus 1:35; Markus 6:46; Tobit 8: 4-8

 

Hirawan

Anak kami berjumlah 4 orang, cukup banyak  untuk ukuran sekarang. Saat itu  kami banyak mengalami  kecemasan. Dalam perasaanku timbul pertanyaan: “Apakah kami mampu memberi pendampingan, mampu menyekolahkan, mampu membuat mereka maju?” Dalam kecemasanku yang tinggi, aku berserah pada Tuhan bersama pasanganku. Kusampaikan padanya bahwa anak-anak kita adalah titipan Tuhan; kami hanyalah  perantara.  Selain  berusaha terus-menerus, kamipun berdoa tiap hari dan juga melalui misa harian. Kumohon pada Tuhan agar anak-anak kami boleh menjadi orang baik. Waktu kuliah berangkat 1 orang, pulangnya juga 1 orang jangan menjadi 2 orang apalagi 3 orang, karena sudah bawa suami dan bayi. Hal ini  tentu menyakiti hati orangtua, apalagi harus menikah tanpa persiapan. Menikah mendadak, betapa malunya kami sebagai tokoh umat dan tokoh masyarakat yang di-TUA-kan. Puji Tuhan sampai selesai kuliah ke-4 anak-anak mau mendengarkan kami orangtuanya dan  tidak berulah. Merekapun rajin berdoa, termasuk doa Rosario tiap hari. Jangan meremehkan ujud doa yang paling tinggi adalah misa harian. Kami sudah membutktikan itu dan hampir semua kesulitan  dapat teratasi.

 

Sisil

Doa yang kudapat saat  masih di asrama yang dipimpin para Suster OSF di Semarang, membuatku menjadi kuat dalam iman katolik, doa Rosario, doa harian dan tentu ke misa harian bersama pasanganku. Aku kagum sama Hirawan karena dia yang rajin mengingatkanku untuk pergi ke misa harian. Sehingga sebagai seorang isteri dan juga sebagai seorang ibu, aku tegar dan tidak menjadi corong radio untuk bicara ke mana-mana. Masalah keluarga kami,  ya... masalah kami, tidak perlu dibawa ke mana-mana.  

 

Kekuatan Doa – Kisah Yabes

 

Hirawan

Saat aku selisih pendapat dengan kakakku yang nomer 3, aku sungguh jengkel dan tidak sudi untuk bicara. Hatiku terasa sakit. Bagaimana tidak? Orang yang kukagumi dan kubanggakan justru menyakitiku yang paling dalam. Setiap pulang aku menghindar untuk bertemu dan Sisil terus mendorongku untuk minta maaf. Namun harga diriku amat tinggi, aku nggak mau. Dalam hal ini,  Sisil nggak pernah berhenti berdoa untukku dan kakakku agar mau berdamai. Akhirnya doanya terkabul, dan  terjadi juga kami saling minta maaf. Saat itu perasaanku jadi plong dan aku merasa  senang.   

 

Sisil

Saat anak sulung kami harus keluar dari frater, kami sedih dan kami menjemputnya ke Seminari Tinggi. Ternyata masalah tidak berhenti sampai di situ. Anak kami depresi berat, tiap malam ia  sulit tidur karena  masih jengkel dan putus asa. Dalam batinnya bergejolak, “Mengapa saya yang harus ke luar? Mengapa dan mengapa?? Akhirnya kami carikan pembimbing rohani hingga ia sembuh dari  luka batinnya dan bisa memaafkan dirinya. Kami senang dan anak sulung kami akhirnya bekerja dengan tenang.

 

Rahasia Berlimpahan

 

Hirawan

Sungguh di luar kemampuan kami, untuk bisa membesarkan dan membiayai ke-4 anak kami dengan baik. Saat mereka ber-4 semuanya kuliah, sepeda motor yang ada secara bergantian kami jual untuk kemudian kami harus kredit lagi, Perhiasan Sisil juga harus singgah di pegadaian. Namun semua itu kami jalani sebagai tanggung jawab orangtua. Akhirnya semua putra-putriku justru  pernah mendapat bea siswa, selesai kuliah tepat  pada waktunya. Mereka bisa pulang ke rumah dan tidak ada yang aneh-aneh. Sekarang semua telah bekerja. Apa yang kami jalani bersama pasangan merupakan rahasia berlimpah dari Tuhan.

 

Sisil

Dengan modal nekat, kami kuliahkan ke-4 anak kami di Jawa, (Malang, Jogja dan di Semarang), les bahasa Inggrispun harus di EF sampai kami was-was,  apakah bisa terus berlanjut. Hirawan dengan penuh percaya diri menjawab, “Jalani saja, Tuhan akan melimpahkan berkat-Nya jika kita mau melayani dengan tulus. Sungguh menggembirakan memang, akhirnya kami bisa sampai ke  Nusa Tenggara sampai Atambua, Flores dan Sumbawa juga sudah kami jelajah dalam pelayanan. Bahkan bisa ke Jember, Jogja, Bandung, Bogor, Jakarta. Pada waktunya Tuhan akhirnya melimpahkan berkat bagi anak-anak kami semua. Yach... berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu dan  akhirnya merasa senang karena anak-anak telah suskes.   

 

Yesus Menginginkan Perubahan

 

Hirawan

Terkadang muncul sikap malas, “Untuk apa melayani kesana-kemari, toch   kita juga hidup begini-begini saja? Apalagi yang mau dicari, rasanya biarlah orang lain yang melanjutkan.” Namun dalam kenyataan tidak bisa demikian, sekali kita ditangkap Tuhan, ya..., jalani saja semua tugas pelayanan ini dengan penuh sukacita. Gesekan di manapun selalu ada dan akan terjadi, tidak perlu dihindari, yang penting didialogkan kembali. Bertemu teman-teman pasutri, dan pastor team, membuat  semangat baru. Seandainya kami  hanya tinggal di rumah, pastilah lama-kelamaan justru akan hilang dari peredaran, akhirnya bisa tertinggal jauh,  betapa malunya kita.

 

Terima kasih kami sampaikan kepada tim dan semua pihak yang telah memungkinkan kami bisa mengikuti enrichment ini./KT/ER/BI.

WLY WNY

05 Jul 2017 19:32
Pasutri Hirawan-Sisil
Enrichment ME, me jakarta, me denpasar, bloom where are you planted,