News & Articles

Majalah Relasi

Pengharapan Kepada-Nya,  Menjadi Sumber Kesembuhanku

Pengharapan Kepada-Nya, Menjadi Sumber Kesembuhanku

 

Kesembuhan, baik kesembuhan fisik maupun batin, tentu sangat didambakan oleh seluruh umat manusia, miskin maupun kaya, tua maupun muda, anda maupun saya. Pengharapan akan kesembuhan ini pernah amat saya dambakan.

Sejak tahun 1967, sewaktu kami baru memiliki seorang putra, saya sering mengalami detak jantung yang berdebar-debar. Datangnya sering kali tiba-tiba dan tidak bisa diprediksi. Bila sedang datang debaran tersebut, dada terasa sesak sekali.

Beberapa kali Teddy mengantar saya berobat ke dokter, namun penyebabnya tidak pernah bisa terdeteksi. Dokter hanya memberikan beberapa obat, dan berpesan agar saya menghindari minuman teh, kopi serta cacao. Pada suatu hari, menjelang kontrol, saya sengaja minum banyak kopi, agar debaran timbul dan terekam dalam ECG, namun ternyata meleset, debaran itu tidak muncul.

Bila digambarkan dalam bentuk grafik, pada awalnya debaran itu begitu runcing, namun temponya sangatlah singkat. Bertambah tahun, bentuk grafik tersebut semakin tumpul dengan tempo yang semakin panjang. Kalau sudah demikian, saya hanya bisa menghela nafas dalam-dalam dan berharap debaran segera sirna. Belasan tahun gejala ini saya alami, tapi obat  sudah jarang saya minum lagi karena sifatnya toh hanya sebagai penenang belaka. Saya takut kecanduan.                                                                                                                         

Saya bersyukur, karena pada minggu, 1 April 1984, pukul 05.30 bisa hadir mengikuti misa, walaupun saat itu saya sedang mengalami debaran jantung yang sangat mengganggu. Namun saya  tidak memberitahu Teddy maupun anak-anak, agar kami bisa tetap berangkat ke Misa pagi itu. Sepanjang Misa debaran yang sangat tidak enak itu tetap timbul dan hilang tidak menentu, hingga nafas terasa sesak sekali.

 

Saat itu yang mempersembahkan Misa adalah Pastor Anton Tanalepi CM, Pastor Kepala Paroki kami, Paroki St. Vincentius a Paulo, Surabaya. Dalam homilinya,  Pastor Anton antara lain mengatakan, bahwa untuk memperoleh kesembuhan, kita tidak harus menunggu dan mendatangi Misa Penyembuhan kesana-kemari, karena sebenarnya Ekaristi Kudus adalah Penyembuh Agung bagi kita yang percaya kepada-Nya.  Beliau mengisahkan pengalaman seorang bapak yang mengalami sakit punggung yang luar biasa. Suatu ketika sebelum menyantap hosti yang diterimanya, bapak tua ini menempelkan hosti tersebut ke punggungnya dan ternyata beliau memperoleh  kesembuhan.

Entahlah, apakah Pastor Anton sedang bergurau waktu itu, namun saya sempat berpikir, “Jangan sampailah...,  hosti ditempel-tempelkan begitu, kurang hormat ah...!  Kalau Tuhan menghendaki, kesembuhan pasti terjadi.”                                                                                                                             

Dari homili Pastor Anton tersebut, muncullah harapan kesembuhan atas gangguan jantungku. Setelah menerima komuni, saya berdoa dalam hati : “ Ya Tuhan, bila Engkau menghendaki, maka saya akan menerima kesembuhan dari Dikau sendiri dan saya tidak lagi terganggu oleh debaran jantung yang tidak teratur ini.” 

Sepulang dari Gereja, bahkan sampai berhari-hari, memang saya tidak diganggu timbulnya debaran jantung yang tidak teratur. Namun, saat itu saya belum berani memberitahu Teddy, karena saya masih khawatir kalau-kalau yang saya rasakan ini  hanya sugesti belaka (Duh..., ampuni saya ya Tuhan”)                                                                                          

Pada pertengahan bulan Mei 1984, teman kami, pasutri Is-Bud sedang sedih dan kebingungan dengan putrinya terkena kanker otak. Bukan suatu kebetulan kalau hari itu Pasutri Djok-Willy Maramis yang akan menempuh perjalanan pulang dari Manado mengabarkan bahwa Pastor Lambertus Somar Msc akan transit di Airport Surabaya sebelum meneruskan perjalanan ke Jakarta. Maka bersama Pasutri Liliek-Eddy, kami mengantar Pasutri Is-Bud bersama Anna, putri mereka, mengejar Pastor Somar ke Airport Juanda. Saat itu  Teddy baru ada kesibukan, sehingga tidak bisa ikut serta. Sesampai di Airport, ternyata Pastor Somar tidak jadi transit, melainkan diantar mobil khusus milik Airport menuju rumah Pasutri Djok-Willy dan akan menginap semalam di sana. Maka kamipun meninggalkan Airport dan  saya pun langsung menghubungi Teddy.  Dalam pembicaraan telepon, Teddy menganjurkan agar saya minta didoakan juga oleh Pastor Somar. Namun saat itu saya jawab, “Tidak usah, saya sudah sembuh kok.” Tentu saja Teddy bingung mendengar jawaban saya.  Sewaktu Teddy menjemput, sekali lagi dia mendorong saya untuk minta didoakan oleh Pastor Somar, namun saya tetap pada pendirian bahwa saya sudah sembuh. “Ceritanya.., nanti saja, kataku”.  

Setelah sampai di rumah, saya sharingkan pengalaman menerima komuni pada 1 April yang sudah menyembuhkan saya, hingga tidak pernah mengalami gangguan debaran jantung lagi.  Hal ini juga pernah saya sharingkan kepada Pastor Somar dan saya juga menyampaikan bahwa pada waktu di rumah Pasutri Djok-Willy tempo hari, saya tidak berani minta didoakan untuk kesembuhan debaran jantung saya, sebab iman saya mengatakan bahwa  saya sudah menerima kesembuhan dari Tuhan Yesus sendiri.   Pastor Somar ikut senang mendengar kesaksian ini.  Sedangkan kepada Pastor Anton, baru sempat saya sharingkan lima tahun kemudian pada pertengahan Juni 1989, sewaktu beliau melayat Papa saya yang wafat. Beliau terheran-heran mendengar uraian pengalaman dan kesaksian ini, dan kami katakan pada beliau untuk mencarikan kaset rekaman homili pada 1 April 1984, karena beliau punya kebiasaan merekam homilinya sendiri. “Terima kasih Pastor Anton, melalui homili Pastor, saya telah menerima karunia kesembuhan, bahkan sampai hari ini. Terima kasih Tuhan, Terpujilah Bapa, Putera dan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Janganlah kita berhenti berpengharapan pada kebaikan dan pertolongan-Nya. /TK /BI /KT.

 

31 Jul 2017 21:10
Pasutri Lian -Teddy Boedianto
Pengharapan Kepada-Nya, Menjadi Sumber Kesembuhanku,