News & Articles

Majalah Relasi

BERBEKAL KASIH-NYA, KAMI ALAMI BERBAGAI KEAJAIBAN

BERBEKAL KASIH-NYA, KAMI ALAMI BERBAGAI KEAJAIBAN

Dalam perjalanan hidup, kami berdua mengalami  jatuh bangun. Banyak harapan yang kami dambakan, ternyata tidak mudah dicapai, butuh perjuangan yang sangat berat dan butuh kesabaran. Tetapi…, semua menjadi sangat indah saat harapan kami dikabulkan Tuhan. Dengan pengalaman jatuh bangun, kami akan  melalui semuanya; dalam kebersamaan, kami akan berbagi kasih. Kasih-Nya, telah membuat satu per satu harapan kami dikabulkan. Hal yang semula begitu berat dan seolah tak berujung, dapat kami lalui, kadang dengan ringan, kadang terasa berat. Perjuangan itu  belum usai…

 

Menghadapi sakitnya Ria, aku mulai menyadari kalau  aku memang diminta Tuhan untuk melayani Ria, istriku.  Rasa kasihku padanya  sejak aku mengenalnya dulu, kini harus kuungkapkan secara total. Ya… Ria dalam sakitnya, sangat membutuhkan kasih dan perhatiannku.  Timbul kesadaranku,  bahwa itu juga berarti aku melayani Tuhan, melalui pelayananku terhadap Ria. Hal ini menjadikan aku mulai bangkit lagi, dengan minta pertolongan Bunda Maria agar  terus menjaga dan mendampingi kami.

 


RICARDO

Kami menikah 12 November 1994, setelah pacaran selama 5 tahun. Masa pacaran adalah masa sulit bagi kami, karena kami harus backstreet karena orangtuaku tidak menyetujui. Salah satu alasan karena orangtua Ria yang bercerai. Namun aku berusaha pertahankan Ria, karena aku mencintai dia dan kami seiman. Aku tidak mau terjadi seperti pada orangtuaku yang tidak seiman, walaupun relasi baik, tetap ada yang kurang di rumah kami. Relasi dengan Tuhan tidak pernah dibicarakan secara terbuka.


Selama 5 tahun pacaran, relasi dengan orangtuaku sangat buruk. Aku selalu berbohong jika malam minggu mau menemui Ria. Paling senang jika Sabtu ada kuliah pagi, sehingga aku bisa pergi seharian sampai malam dengan Ria. Aku tidak mudah mendapat ijin ke luar rumah, kecuali untuk kuliah. Untungnya aku kuliah jurusan arsitektur yang banyak tugas kelompok. Sehingga ada alasan untuk pergi sampai malam. Tetapi kalau ketahuan pergi dengan Ria, sudah pasti terjadi keributan besar di rumah.

 

Setelah aku bekerja, aku mulai bebas bersama Ria. Sampai suatu saat hubungan kami yang menjelang 5 tahun, mulai terasa tak berujung. Saat itu timbullah kegalauan dan pertanyaan, “Mau dibawa ke mana hubungan kami selanjutnya?” Aku hanya punya satu pilihan, yaitu kawin lari. Namun aku juga tidak mau menikah tanpa restu orangtuaku terutama mamaku. Karena hubungan kami terus mengambang, suatu hari Ria memutuskan untuk pergi berlibur ke tempat kakaknya di Amerika. Setelah di sana beberapa hari, Ria menelponku dan mengatakan tidak mau pulang kalau hubungan kami tidak ada kelanjutannya. Akhirnya aku minta Ria pulang saja, aku berjanji akan membereskan masalah ini.

 

Untuk menyenangkan Ria, aku mengajak Ria untuk ikut Kursus Persiapan Perkawinan. Namun, menjelang hari pelaksanaan  kursus, aku tidak tenang. Aku sudah memulai sesuatu yang serius, aku tidak bisa lagi mengulur-ulur waktu sekedar memberi janji pada Ria. Malam hari sebelum kursus, aku tidak bisa tidur, akhirnya malam itu aku berdoa Novena Salam Maria, yang kurapel sekaligus 9 kali berturut-turut. Sambil  menangis, aku bertelut dan mohon pertolongan Bunda Maria. Saat itu dengan sepenuh hati, aku mengucap janji, jika dikabulkan permohonanku bisa menikah dengan Ria, aku akan melayani Tuhan.

 

Entah mengapa, esok paginya aku diberikan kekuatan dan merasa tenang. Pagi itu aku jemput Ria dan  bertekad  membawanya ke rumah. Di jalan aku menyetir dengan gemetaran; perasaanku sangat takut, apalagi saat semakin dekat rumah, hati semakin resah. Untuk berjaga-jaga, aku  menyiapkan mentalku, kubayangkan akibat terburuk adalah  aku diusir ke luar rumah. Namun, tanpa diduga, mamaku justru  menyambut  Ria dengan baik. Beliau  malah menyiapkan sarapan, dan bahkan kami sempat menemani mama berbelanja. Sore itu kami pergi KPP dengan perasaan sangat  bahagia.

 

Esok paginya saat sarapan, papa mengatakan bahwa diperlukan waktu sekitar 6 bulan untuk memesan gedung. Aku terpana saat menangkap maksud pembicaraan papa. Orangtuaku telah merestui hubungan kami dan bahkan mau menikahkan kami. Saat itu dengan hati lega dan perasaan yang dalam  aku menjawab, “Tiga bulan saja deh, biar sama dengan  HUP Papa Mama, yaitu 12 November. Selama 3 bulan kami semua sibuk mengurus persiapan perkawinan. Akhirnya acara pernikahan  berlangsung selama 6 hari. Dimulai papaku mangadakan pengajian, mamaku mengadakan Ibadat Sabda. Mamanya Ria mengadakan upacara mapaci, kemudian papanya Ria mengantarkan kami mendapatkan Sakramen Perkawinan dan resepsi, dilanjutkan orangtuaku mengadakan resepsi sendiri. Sungguh..., suatu keajaiban yang semua terjadi di luar dugaan. Satu hal yang  paling membuatku tersentuh adalah  sepanjang upacara berlangsung, mamaku tak berhenti menangis bahagia. Tangisku juga meledak saat aku berdoa dan bersujud di hadapan Bunda Maria. Serta-merta aku teringat akan doa novena yang kurapel, dan Bunda Maria mengabulkannya.

 

RIA

Pada saat awal perkenalan, aku tidak mengira akan pacaran dan menikah dengan Ricardo. Ricardo orangnya pendiam dan kelihatan serius sekali, Akhirnya kami menjadi dekat dan pacaran. Pada saat awal pacaran, ada firasat di hatiku kalau aku akan menikah dengan Ricardo. Tapi ternyata orangtua Ricardo tidak menyetujui hubungan kami. Aku sedih sekali harus pacaran backstreet dan beberapa kali ingin mengakhiri hubungan kami, meskipun dalam hati aku masih ingin bersama Ricardo. Dalam doaku pada Tuhan, aku mohon dimudahkan jalanku untuk bersama Ricardo. Sampai akhirnya setelah 5 tahun pacaran backstreet, kami bisa menikah dengan restu orangtua kami.


Setelah menikah aku tetap bekerja sebagai sekretaris, sampai anak sulung kami lahir. Saat itu aku memutuskan untuk mengurus sendiri bayi kami dan berhenti bekerja. Kondisi  keuangan kami bisa dibilang minim sekali. Kami tidak mampu menggaji Baby Sitter, bahkan untuk beli pampers saja aku harus berhitung. Ricardo banyak sekali membantuku dalam mengurus rumah tangga juga bayi kami. Situasi ekonomi kami yang minim tersebut kujalani dengan senang hati dan ikhlas, saya yakin Tuhan pasti akan membantu kami. Pada waktu anak kami berusia 1 tahun aku kembali bekerja atas ajakan mantan atasanku yang ternyata ingin menerima aku untuk kembali bekerja, sehingga dapat membantu ekonomi rumah tanggaku. Aku bekerja sampai bulan Mei 2013, karena aku mengambil pensiun dini untuk lebih fokus dalam kesehatanku dan anak-anak.


Pada waktu anak bungsu kami berusia 2 tahun, aku divonis dokter kanker payudara. Saat itu aku kaget dan sedih sekali. Saat itu usiaku 34 tahun, lagi giatnya berkarir dan sibuk mengurus 2 anak balita kami. Perjalanan panjang pengobatanku kujalani dengan ikhlas: operasi, kemoterapi dan radiasi. Saat itu aku tetap bekerja, untukku itu merupakan karunia Tuhan aku bisa berobat dengan lancar dan kantorku mengijinkan aku absen kerja untuk berobat bahkan juga mendapat bantuan keuangan. Setelah pengobatan beberapa waktu, dokter menyatakan aku sembuh. Selama 8 tahun aku hidup sehat meskipun aku tiap tahun rutin memeriksakan diri.

 

Tanpa diduga, pada tahun 2009 kankerku muncul kembali, dan telah terjadi  penyebaran hingga di tulang belakang. Sakitnya sungguh sangat tidak terkira. Pengobatan mulai kujalani lagi, siklus panjang pengobatanku selama bertahun-tahun dulu kujalani dengan patuh. Saat itu kami sudah mengikuti WEME dan sudah menjadi Team. Kami tidak menghentikan pelayanan di ME, tetap memberikan WeekEnd,  meski  harus memakai penyangga punggung dan sedang dalam proses radiasi. Demikian juga dengan  rekoleksi dibeberapa kota atas ajakan Pasutri Elly-Rusli. Ternyata semua itu justru  memudahkan aku dalam menjalani pengobatan. Tuhan memberikanku kekuatan, bahkan ajaibnya, jadwalku memberikan WeekEnd ataupun rekoleksi tidak pernah bersamaan dengan jadwal pengobatanku.

 

Harapanku akan sembuh total ternyata belum terwujud, karena hasil check up pada Maret 2012 menyatakan bahwa kankerku menyebar ke beberapa area di tulang, bahkan juga di getah bening. Hancur hatiku saat itu, tapi aku tidak berani bertanya pada Tuhan: kenapa saya? Karena aku takut Tuhan jawab: kenapa tidak? Meskipun hancur hatiku dan mulai ketakutan akan segera meninggal, pengobatan tetap kujalani. Saat itu kondisi fisikku memburuk, kakiku lemah, kalau jalan rasanya pegal bukan main. Semua teman menyarankan untuk second opinion ke Singapura. Yang kulakukan; bukan, aku tidak pergi ke Singapura, tapi malah berangkat ke Lourdes dan La Salette, tempat penampakan Bunda Maria. Kami pergi bersama Pasutri Elly-Rusli dan Pasutri  Acu-Pocky. Selain berziarah aku berharap ada keajaiban Tuhan untuk kesembuhanku, meski jalanku pincang karena kankerku di panggul, aku bisa mengikuti jalan salib sampai selesai di atas bukit. Sepulang dari Lourdes baru aku pergi ke Singapura. Atas anjuran Pasutri Acu-Pocky aku bertemu dengan dr. Karmen Wong, yang pernah  merawat Pocky hingga sembuh.

 

Setelah bertemu Dokter Wong,  beliau kaget melihat hasil MRI ku; kankerku sudah metastase di hampir semua tulangku, bahkan juga di tulang kepala. Saat itu dr. Karmen mengatakan  kankerku sudah advanced dan tidak ada stadium-nya, bahkan beliau heran karena aku masih bisa berjalan. Hanya  karena keajaiban Tuhan, sebab  secara kedokteran aku harusnya sudah lumpuh. Aku mulai menjalani kemoterapi selama 8 bulan, tiap bulan ke Singapura untuk kontrol dan kemo. Efek kemo ini lumayan berat, mual, rambut rontok bahkan kuku di jari kakiku menghitam kemudian lepas satu persatu.

Selama kemo berlangsung, aku menjalani hidup seperti biasa. Sebisa mungkin, aku tetap bekerja dan berkegiatan ME. Pernah terjadi, tiba-tiba tidak bisa berbicara, kanker di tulang belakang  merusak pita suaraku sehingga bicaraku hanya seperti orang berbisik. Dalam kondisi itu aku masih memberikan KPP dan juga  rekoleksi. Beberapa teman membantu menyetel sound system agar suaraku terdengar lebih jelas. Akhirnya aku menjalani operasi pita suara di Singapura, untuk mengembalikan suaraku dan agar aku bisa melayani Tuhan melalui sharingku.

 

Saat tulisan ini kubuat (Juli 2013), pengobatanku belum selesai. Aku masih tetap harus kontrol ke Singapura. Semakin hari harapanku semakin kuat, bahwa Tuhan akan memberikanku kesembuhan sempurna. Tuhan Maha Kasih dan hal ini terbukti aku masih terus diberikan kesempatan. Melalui Ricardo pasanganku, aku mendapat kekuatan dan merasakan kasih Tuhan yang tak terhingga. Kadang hatiku haru dan kasihan, juga tidak tega melihat dan mengalami perjuangan dia dalam mendampingiku. Dulu memang aku berpikir, sebagai tugas Ricardo-lah untuk mendampingi isterinya yang sakit. Aku kurang bisa memahami perasaan dan pengorbanannya. Namun, penyakitku yang berlangsung cukup lama, membuat aku menjadi sadar, bahwa pengorbanan dan perjuangan Ricardo selama ini sungguh sangat besar sekali. Aku bisa merasakan kesedihan dan ketakutan Ricardo dan tidak bisa membayangkan kalau Ricardo yang sakit dan aku yang harus mendampingi dan mengurus dia, pasti aku sudah tidak akan sanggup. Ricardo sangat menguatkanku dan aku yakin akan sembuh karena Tuhan akan membantuku.  

 

Aku sempat merasa tenang dan lega, saat kami berkesempatan bertemu dengan Pastor Somar, yang waktu itu mengatakan, bahwa Ricardo kondisinya sehat. “Terima kasih Tuhan, kalau ada apa-apa dengan aku, anak-anak akan aman bersama papanya”, begitu kukatakan dalam hati saat itu. Bagaimanapun kondisiku, aku masih merasa bersyukur karena diberikan banyak anugerah; suami yang sayang dan pengertian, anak-anak yang sehat serta para sahabat yang mendukung dan mendoakan kami.


RICARDO

Memiliki isteri yang sedang sakit, tentu aku sangat sedih, tetapi aku tidak ingin tenggelam dalam sakitnya Ria. Kami berdua harus terus bangkit dan terus menjalankan kehidupan dari hari ke hari. Harapanku yang utama, tentu saja adalah  kesembuhan Ria.

 

Memang kadang-kadang sempat terpikir, bahwa  rasanya tidak adil aku harus mengalami semua ini. Kalau sudah berpikir demikian, aku menjadi takut dan jika perasaan ini aku biarkan saja, biasanya relasi kami menjadi berantakan. Aku bisa bertingkah laku yang tidak menyenangkan. Hal ini terjadi berulang-ulang, sampai suatu saat aku ingat akan salah satu kunci dialog ME yaitu 'I Message'. Saat aku meditasi dan kemudian merenung, aku mulai berpikir, semua harus dimulai dari diriku sendiri. Aku berusaha menyelami diriku sendiri dan mencari jawaban atas pertanyaanku itu. Saat itu aku menemukan diriku sendiri, ya..., aku memang diminta Tuhan untuk melayani Ria, isteriku.

Kesadaran itu membuatku  lebih mudah menyingkirkan perasaan negatifku, dengan demikian tingkah lakuku juga menjadi lebih baik. Aku bisa lebih sabar menghadapi Ria terutama lebih bisa menerima semua kondisi yang sedang kami hadapi. Semuanya membuat pengobatan Ria menjadi mudah.

Kondisi ini membuatku juga banyak belajar. Ria tidak pernah berhenti dalam pelayanan, walaupun kadang-kadang fisiknya juga terbatas. Hal itu yang membuat aku tetap bersemangat agar Ria dapat sembuh total. Aku terus mendampingi Ria dalam pengobatannya dan terus meminta Bunda Maria, agar semuanya dimudahkan, seperti pengalaman-pengalamanku sebelumnya. Semuanya begitu dimudahkan walaupun saat menjalankannya tampak begitu sulit dan butuh waktu yang tidak pernah kami  tahu akan sampai kapan. Kami hanya percaya akan tiba  waktunya Tuhan untuk menolong menyembuhkan Ria. Aku percaya, Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kami dan rencana-Nya pasti indah pada waktu-Nya. Apapun yang terjadi, life must go on…/KT/BI/ER

28 Sep 2017 09:08
Pasutri Ricardo-Ria
BERBEKAL KASIH-NYA, KAMI ALAMI BERBAGAI KEAJAIBAN, MEJAKARTA,