Testimonial

Bagaimana pengalaman & pendapat Anda tentang ME Jakarta?


"Thank you Chris & Lely, Irman and I love all three pairs of team leader ๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’• We love especially the radiant and smile from your heart and reflect on all of you on the face. Your story of the broken string violin inspired me deeply. Nobody ever tell me that a broken violin can continue produce sweet melody. What knowledge I receive in the past is, the crack on the mirror cannot be repaired no matter how small the crack is, a cup of milk been drop in a drop of ink, no matter how small the drop is, the cup of milk cannot be pure and white anymore.

This phrases had been troubled me for years and years, this cup of unwhite milk confused me for years and years. Not until yesterday, not until the ME session... I can feel there must be something some unknown power, to make us come to attend this session, to come across a group of people, to crash cross the wisdom you people impart on us.

Dear all team leaders, I received the message from the Almighty, Di dunia ini gak ada perkawinan yang sempurna. We both feel thankful and grateful to all of you."

Loves & Hugs,
Susie๐Ÿ’•Irman (Pasutri)

"Setelah mengikuti ME relasi kami menjadi lebih baik, kami bisa berkomunikasi dengan lebih nyambung, lebih mengerti sikap pasangan dan bisa melepaskan emosi negatif dari pertengkaran di masa lalu. Sekarang hubungan kami lebih romantis, kepada anak pun jadi lebih sabar dan tenang. Kami lebih bisa berproses lebih baik apabila menghadapi masalah dalam keluarga, karena ME memberikan tools yg paling kami butuhkan dlm menempuh hidup bersama.

Terima kasih ME....."

Tino-Monik (Pasutri)

"Sungguh luar biasa. Nilai-nilai ME yang kami hayati dalam hidup kami sehari-hari telah mengubah hidup kami. Perkawinan selama lebih dari 40 tahun serasa masih dalam suasana bulan madu."

Budi Hong (Pasutri)

"Di dalam ME kami belajar berbagai cara untuk lebih memahami perasaan pasangan, pemikirannya, bahkan juga belajar bagaimana memahami dan menerima kekurangan pasangan. Mengikuti ME tidak menjamin pernikahan menjadi serba sempurna dan tanpa pertengkaran, akan tetapi melalui ME kami lebih bisa mengatasi pertengkaran dengan baik dan dan lebih mudah untuk saling memaafkan. Metode dialog yang kami pelajari di ME, membantu kami menjadi lebih mengerti bagaimana mengatasi banyak tantangan dalam pernikahan."

Didiet & Eva (Pasutri)

" Sharing Leny

Dulu pas ajak mul ikutan weekend me susah banget. Bahkan sampe didoaiin byk org akhirnya mau ikut. Power of prayer. Gini cerita nya: Aku sdh diajak weekend me ama pak arifin dan bu riana sdh lama.tp blm tergerak. Banyak juga ketemu temen blgnya bagus. Tp blm tergerak. Cm mmg penasaran.apa sih bagusnya. Lalu thn sep 2016 diajak lg ama sepupu mul ikut weekend lg. Kebetulan sepupu pengen ikut weekend tp gak ada kendaraan.jd dia ngajak kita berdua ikut jg spy mereka ada transport bs sampe Puri Avia.Tp kita juga blm mau. Tp dia gak bosen bosen ngajakin saya trus. Tiap bln ngajakin. Dia selalu blg ayo ikut. Mereka sdh rasaiin bener bener bagus buat hubungan relasi mereka. Saya tetap gak bergeming. Sy juga malas maksaiin mul krn tahu jawabannya gak bakal mau. Tp sy akhirnya puyeng juga karena tiap kali diajak trus ama sepupu. Akhirnya sy mulai ngajakin trus mul dari baik baik sampe akhirnya rada maksa. jawaban dia tetap tdk mau. Akhirnya sampe bln juni 2017 gak tahu kenapa saya tiba tiba bs ngambek gara gara weekend me. Penantian 10 bln yg tidak sia sia๐Ÿ˜Š.Mgkn sdh jalanNya Tuhan spy kami harus ikut weekend me. Sy jarang ngambek selama kami berumah tangga. Krn sy sdh ngambek akhirnya dia nyerah. Mul selalu omong ngapaiin sih ikutan weekend me khan rumah tangga kita gak bermasalah.ngapaiin ikutan weekend me segala. Sy blg gak tahu pokoknya sy mau ikut. Kalo gak mau, ikut nanti sy cari suami sewaan.sy becandain dia .(krn syarat weekend kudu suami istri). Akhirnya dia ngalah mau ikut dengan banyak syarat. Sy iyaiin aja yg penting dia ikut weekend dulu. Eh setelah weekend me dia yg ngebet ikutin semua acara setelah weekend .Rajin juga ikut rekoleksi dan enrichment. gak pernah bolos utk ikutin acara KD angkatan. (kelompok dialog). Malah sekarang dia yg aktif di ME. Kalo tmen temen angkatan kami yg tidak datang KD dia yg japri satu per satu. Skrg malah saya berterima kasih banget ama sepupunya yg gak bosen ajakin saya trus.Mgkn sudah jalannya Tuhan ya. Moga moga habis setelah ini Mul jg bs aktif di lingkungan. Kalo mmg sudah waktu Nya pasti segala sesuatu bisa terjadi. Sori ya temen tmen sedikit sharing dari sy aja. Gak tahu napa saya lg pengen sharing. Biasanya saya males ketik panjang2. Krn saya gak bs pinter susun kata-kata dan tdk pandai bercerita. Sepertinya Tuhan yg mengerakkan hati sy utk menulis ini.
Di awal pernikahan th 2002, saya adalah org yg sama sekali jauh dari Tuhan. Yg namanya ke gereja pun malas krn dalam benak saya, yg terpenting adl bhw dg berbuat baik, bijak, dll itu saja sdh cukup. Sampai th 2005 ketika kami sepakat ingin membiasakan anak pertama kami, barulah saya mulai mau ke gereja meskipun dg malas2an demi mendidik anak kami secara Katolik. Tapi ternyata Tuhan punya rencana, Aug 2016 kantor saya mengalami perubahan manajemen dg masuknya anak Komisaris kami ke dlm operasional. Satu persatu terjadi perubahan demi memperketat pengeluaran, dan akhirnya saya pun kena imbas di mana komisi yg tadinya lbh besar daripada gaji + tunjangan bulanan dihapuskan total. Kami yg tadinya bisa dg sangat nyaman mengelola keuangan hrs mengencangkan ikat pinggang. Dari situ saya mulai mendekatkan diri kpd Tuhan, diawali dg keinginan tulus utk ikut misa tiap minggu, bergabung dg paduan suara wilayah pada Nov 16, lalu dilanjutkan dengan weekend ME pada Juni 2017, krn istri ngambek. Di weekend ME itu kami saling terbuka thd pasangan, lebih mengenal kepribadian dan kebutuhan pasanganku yg adalah seorang helper. Kami menjadi semakin dekat satu sama lain, dan juga dg Tuhan. Meski pd awalnya saya tetap bersikeras menyatakan akan mendahulukan koor daripada ME, waktu demi waktu berlalu dan saya semakin tdk bisa menolak suara hati untuk setia mengikuti setiap kegiatan ME, mulai dari bridge proses, kelompok dialog, rekoleksi, bahkan akhirnya dilibatkan dalam kepengurusan ME Paroki. Sekarang saya harus bersikap bijaksana dalam mengatur waktu antara kegiatan koor dengan ME dan saya bersyukur sampai saat ini karena keduanya dapat seiring sejalan tanpa ada yg merasa terabaikan. Memang Tuhan punya rencana, Tuhan punya kuasa, dan saya sebagai pengikutNya harus siap sedia ditempatkan di mana saja olehNya. Kami semakin dekat dan lbh bisa mendengarkan pasangan krn dalam weekend ME itu diajarkan cara berkomunikasi, mengelola konflik, dsb. Sekarang kami selalu mendialogkan setiap masalah dengan terbuka satu sama lain tanpa mengabaikan perasaan pasangan. Kami senang bisa terlibat dalam komunitas ME karena susana kekeluargaan yang sedemikian tinggi di antara setiap anggotanya. Yaah...mungkin karena dasar dari semua yang diajarkan dalam weekend ME adalah cinta, sehingga dalam komunitas ME tercipta suasana keakraban yang menurut saya paling tinggi di antara komunitas lain yang ada."

Leny & Moelyadi WE ME 406, 9-11 Juni 2017. (Pasutri)